"Apa Rasanya?" shares the real stories behind big-stage presentations. Through exclusive interviews, we uncover how speakers tackle challenges, own the moment, and turn pressure into impact.
Cynthia Darman, Commercial Officer at Wonderwhy SEA, berbagi soal rasanya presentasi Sleep as Culture bersama IKEA x Wonderwhy.
Glenn Rumindo, Head of Product at Adira Finance, berbagi soal rasanya presentasi di depan product people paling senior di Indonesia Product Conference.
Nadia Edgina Zain, Head of Industry at Meta, berbagi soal rasanya presentasi di depan para expert industri beauty se-APAC.
Mudita Nanda, Project Manager at MET Glodok, berbagi soal rasanya menghidupkan sejarah kawasan Glodok lewat walking tour.
Dominique Ivonne, Humanitarian & Educator, berbagi soal rasanya mengajar anak-anak di daerah pelosok dan membangun rasa percaya lewat pendidikan.
Kala, Storyteller & Content Creator, berbagi soal gimana rasanya menyuarakan keresahan sosial lewat karya seni dan cerita.
Allysha Nila, Fashion Stylist & Writer, on styling No Na for the Gold House Gala and fashion as cultural diplomacy.
Eza Riyeni, Apoteker & Pharmacreator, berbagi soal presentasi di forum farmasi internasional IPSF.
Sarah Ardiwinata, Co-Author of Leadership XYZ, berbagi soal presentasi 'Figuring Life Out' di depan ribuan Gen Z.
Belmiro Hasballah, Creative & Design Consultant dan Founding Partner Numiro, berbagi soal presentasi proses kerja agency ke mahasiswa.
Bagi Bella Utami, membangun Mutual Friends bukan cuma soal mengumpulkan orang, tapi soal menciptakan pengalaman yang membuat orang asing merasa diterima.
Bagi Devina Mahendriyani, presentasi bukan sekadar menyampaikan pencapaian bisnis, tapi tanggung jawab untuk mewakili suara perempuan yang lebih luas.
Bagi Adhe Tertiasusman, presentasi bukan cuma soal menyampaikan materi, tapi soal membaca ruangan dan tahu kapan jadi speaker, kapan jadi listener.
Danu Karunia cerita gimana rasanya membangun presentasi dua arah ke mahasiswa yang kritis, dari menjaga flow diskusi sampai membagikan realita industri yang jarang diajarin di kampus.
Vania Evan cerita gimana rasanya menyusun presentasi yang jujur soal authenticity di personal branding tapi tetap punya struktur yang jelas.
Ngomongin isu ekonomi dan UMKM ke audiens yang bukan dari bidang itu, Uta Verina cerita gimana rasanya menyusun argumen kompleks jadi presentasi yang credible.
Kali ini, T&DON ngobrol bareng Indira Larasati, Teacher di HEI Schools Senayan, soal gimana rasanya membersamai proses belajar anak-anak usia dini: dari menjaga mereka tetap engaged, menyederhanakan topik rumit tanpa kehilangan makna, sampai merespons hal-hal sensitif dengan tenang.
Bagi Khansa Khairunnisa, Yoga & Breathwork Teacher, itulah tantangan nyata yang ia hadapi ketika membawa workshop yoga dengan pendekatan psikologis ke hadapan teman-teman seprofesinya. Bukan cuma soal menyampaikan teknik, tapi juga soal bagaimana caranya bikin orang feel it, bukan sekadar know it. Jadi, apa rasanya presentasi workshop yoga pake pendekatan psikologis?
Ada topik yang bikin banyak orang dewasa nervous duluan sebelum sempat menjelaskannya ke anak-anak.
Ada panggung di mana audiensnya masih dua puluhan tapi udah curi start membangun bisnis di tengah dunia yang serba digital.
Bagi Dominique Virgil, Legal Advisor di Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia, ruang itu adalah kelas-kelas di Harvard Law School. Di sana, presentasi bukan sekadar menyampaikan argumen — tapi diuji lewat tradisi Socratic Method, di mana setiap klaim ditantang lewat pertanyaan.
Jadi, gimana caranya tetap tenang dan terbuka saat argumen kita dibedah habis-habisan? Dan yang paling penting, apa rasanya presentasi di Harvard Law School?
Bagi Elsa Christine, Associate Facilitator di TalentBox Indonesia dan Licensed Practitioner Insights Discovery®, momen itu jadi inti dari setiap sesi yang ia pandu. Dari audiens lintas generasi sampai skala ruangan yang makin besar, ia harus membaca energi, menyesuaikan bahasa, dan menjaga makna — bukan sekadar menjalankan rundown.
Jadi, gimana caranya? Apa yang membedakan fasilitator yang hadir penuh dengan yang cuma mengejar waktu? Dan yang paling penting, apa rasanya presentasi sebagai fasilitator di depan berbagai audiens?
Bagi Tiara Dianita, Editor The Maple Media di Redwoods Digital, momen itu adalah keseharian. Sebagai host di berbagai sesi interview seperti Rewind dan Wander, dia harus bisa menjaga obrolan tetap santai sekaligus terarah — sambil membaca kapan harus menggali lebih dalam dan kapan cukup merangkum.
Jadi, gimana prosesnya? Apa tantangan terbesarnya? Dan yang paling penting, apa rasanya presentasi sambil ngobrol di Rewind by Maple Media?
Bagi Razny Mahardhika, Filmmaker & Creative Director di Kinovia, membawa film “Film Wajib Tonton Sebelum Mati” ke festival di Indonesia, Kanada, dan Korea Selatan bukan soal nge-pitch film—tapi soal connect sebagai manusia.
Jadi, gimana prosesnya? Apa tantangan terbesarnya? Dan yang paling penting, Apa Rasanya Presentasiin Short Film di Festival Film Internasional?
Evan Wijaya, seorang graphic designer dan art director, berbagi pengalamannya ketika harus mempresentasikan konsep rebranding Indonesia Kaya — brand seni budaya Djarum Foundation — di hadapan tim klien. Di balik keterbatasan waktu, gangguan teknis yang tak terduga, dan sensitivitas budaya yang harus dijaga, bagaimana dia tetap menjaga kepercayaan diri dan kredibilitasnya?
Via ngalamin sendiri gimana rasanya jadi presenter yang masih merasa “baru” di bidangnya, tapi harus naik panggung di depan audiens yang jauh lebih berpengalaman. Bukan cuma soal sejarah yang berat, tapi juga soal bagaimana bikin orang yang nggak suka sejarah bisa connect. Jadi, apa rasanya presentasiin Artefak Kita?
Valencia Gabriella, Founder & CEO of TalentGo.ai, berbagi soal gimana rasanya menyampaikan insight karier di media dan TV nasional.
Adystra Bimo Herayanto, Co-Founder of Athletica, berbagi soal gimana rasanya mempresentasikan race strategy buat komunitas pelari.
Kelsey Kiantoro, Digital Archivist at Pratt Institute Archive, shares what it's like presenting an archival exhibition and turning archival work into a clear public narrative.
Cherry ngalamin sendiri gimana rumitnya presentasiin rebranding TMII yang bakal diresmikan langsung oleh Presiden. Bukan cuma soal desain yang subjective, tapi juga harus nyatuin suara tiga institusi negara dalam waktu yang super singkat. Jadi, apa rasanya presentasiin TMII di tengah tekanan segede itu?