Presentasi soal Authenticity Pada Self Branding di Conference? | Vania Evan
Ngomongin personal branding sering jatuh ke dua ekstrem — jadi terlalu ‘polesan’ sampai kehilangan diri sendiri, atau terlalu apa adanya sampai lupa gimana orang lain bakal memaknainya. Kali ini, T&DON ngobrol bareng Vania Evan, Chief Creative Officer di Rippple Effect, soal gimana rasanya menyusun presentasi yang jujur soal authenticity tapi tetap punya struktur yang jelas — dari menyusun flow slide, menyampaikan hal-hal personal di atas panggung, sampai menyeimbangkan jadi diri sendiri dengan mengontrol persepsi orang lain.
“Menurut gue, jadi diri sendiri penting karena itu yang bikin kita beda sama orang lain dan mudah diinget. Tapi kalau terlalu jadi diri sendiri tanpa mikirin how you’ll be perceived, it beats the purpose of doing personal branding, yaitu buat mendesain citra diri kita di benak orang lain.”
T& (T&DON): Pas bahas authenticity di personal branding, seberapa sadar lo lagi positioning diri lo juga di situ?
VE (Vania Evan): Waktu itu proses berpikirnya dari pertanyaan klien-klien yang cukup mengagetkan buat gue.
Abis gue present strategi personal branding klien, banyak yang nanya:
Jadi mereka boleh post foto traveling atau momen penting keluarga nggak? Bukan cuma satu atau dua orang doang yang nanya.
Semacam ada pemahaman kolektif kalau udah ngelakuin strategi personal branding, berarti harus lebih tebel aspek branding daripada personalnya.
Dipikir-pikir, personal branding ini emang dua kontras yang menarik:
Gimana caranya kita bisa mewakili diri manusia yang fluid dan membungkusnya dalam framework branding yang terencana.
Udah cukup banyak narasi yang bahas apa manfaat personal branding dan kenapa penting buat dilakuin in this economy.
Yang masih missing tapi penting: Gimana biar nggak lose ourselves in the process?
T&: Biasanya lo decide satu slide itu cukup atau kebanyakan dari apa, flow atau instinct?
VE: Pertama — Susun based on flow alami kita presentasi.
Gue berangkat dari jalan pembawaan presentasinya. Beberapa poin perlu digabung jadi satu slide karena dia satu kesatuan sama hal lain. Kalo kita pisah, nanti malah audiens nggak dapet konteksnya.
Kedua — Emphasize konsep utama.
Tapi ada juga poin yang perlu di-emphasize segitunya, sampe dia harus berdiri sendiri dalam satu slide (dan biar mudah difoto juga, hahaha).
Ketiga — Start light.
Sebisa mungkin, gue juga mencoba start light di awal-awal slide, jangan terlalu banyak tulisan, biar nggak intimidating duluan.
T&: Dari semua layer yang lo bahas, bagian mana yang paling challenging buat lo deliver di stage?
VE: Personal, sih. Gimana caranya gue bisa meyakinkan audiens dengan preferensi personal yang beda-beda, kalau ini penting buat mereka tau.
Plus, gue merasa menyampaikan hal-hal yang personal gini, tuh, agak sensitif. Kalau nggak hati-hati di cara delivery-nya, bisa come off as preachy atau menyinggung.
T&: When it comes to self branding, gimana lo nge-balance jadi diri sendiri vs controlling perception saat present?
VE: Gue merasa baik jadi diri sendiri maupun ngontrol persepsi itu perlu dilakukan dua-duanya. Jadi diri sendiri penting karena itu yang bikin kita beda sama orang lain dan mudah diinget.
Tapi kalau terlalu jadi diri sendiri tanpa mikirin how you’ll be perceived, it beats the purpose of doing personal branding, yaitu buat mendesain citra diri kita di benak orang lain.
Kalo personal branding di ranah digital, godaannya tuh emang gimana supaya kita nggak mencoba menjadi sosok-sosok di luar sana yang kita suka.
Benchmarking itu boleh dan penting dilakukan buat liat penerimaan audiens kayak gimana dan kita perlu kasih diferensiasi di bagian apa.
Tapi masa iya kita lebih pengen dikenal sebagai misalnya Gary Vee-nya Indonesia, Leila Hormozi-nya Indonesia, dibanding jadi diri kita sendiri?
Berhubung personal branding harusnya bukan cuma soal bikin konten tapi juga how we show up IRL (In Real Life), selain penting buat kita jadi genuine dan apa adanya,
I think it’s also much much needed to pause and think, “How have my words, actions, and decisions affected others?”
T&: Di presentasi ini, lo lebih banyak ‘ngasih nama’ ke hal yang orang udah rasain, atau ngenalin perspektif baru yang belum kepikiran sebelumnya?
VE: Mungkin yang pertama kali ya? Berhubung ini berangkat dari pola pemikiran yang emang klien-klien gue rasain juga, meskipun sampelnya sedikit.
Tapi karena ditanya, gue jadi merasa bahwa kita nggak perlu selalu come up with something new dan introduce hal baru.
Bisa, kok, berangkat dari apa keresahan bersama dan dikulik lebih jauh. Justru (semoga) bisa jadi lebih tinggi relevansinya karena udah dipikirin banyak orang.
T&: Kalau orang cuma inget satu hal dari presentasi lo, lo pengennya itu apa? and why that one?
VE: Pertama — Jangan terlalu mengubah diri kita for the sake of branding.
Apalagi demi views, comment, likes, dan semua metriks-metriks di media sosial itu. Karena misalnya kita bisa dapet attention banyak orang, tapi apakah itu the right people that we want to attract?
Kedua — Jangan cuma pinter bangun image, tapi lupa buat live up to the image.
Makin bagus reputasi kita, makin luas jangkauan kita, makin gede tanggung jawabnya, karena we have our own words against us.
3 practical tips we can learn from Vania’s experience.
1. Live up to what you present.
Dalam proses bangun image dan narasinya, jangan sampai jadi versi yang terlalu jauh dari diri sendiri.
2. Balance honesty with structure.
Jujur itu penting, tapi tetap harus dibungkus dalam alur yang jelas. Tanpa struktur, pesan yang bagus bisa jadi nggak kebaca.
3. We don’t have to say something new.
Nggak harus selalu bawa ide baru. Kadang cukup nge-articulate sesuatu yang sebenarnya banyak orang udah rasain tapi belum bisa jelasin.