Presentasi Soal Pertumbuhan UMKM di Conference? | Uta Verina

Ngomongin isu ekonomi dan UMKM di depan audiens yang bukan dari bidang itu enggak semudah kedengarannya — apalagi kalau sudut pandang yang dibawa terasa ‘ngelawan arus’. Kali ini, T&DON ngobrol bareng Uta Verina, Art Director di Studio1212, soal gimana rasanya menyusun argumen kompleks jadi presentasi yang tetap meyakinkan dan credible di panggung conference — dari membangun argumen berbasis data, menjaga audiens tetap relate, sampai menyeimbangkan simplicity dengan kredibilitas.



“Menurut gue, simplifying ide kompleks sama berusaha untuk tidak oversimplify itu wajib dalam presentasi. Karena kita harus bisa mengkomunikasikan ide kita seutuhnya, nggak cuma biar ide besar kita mudah dipahami tapi tetep harus meyakinkan dan credible.”

T& (T&DON): Pas bawa sudut pandang yang cukup “ngelawan arus” soal menjamurnya UMKM, ada ngerasa pressured pas bawa narasi lo ke panggung conference?

UV (Uta Verina): Ada banget. Dalam proses nyusunnya, salah satu objektif gue adalah gimana caranya ide besar ini nggak cuma terkesan jadi opini dan asumsi pribadi, karena gue tau isu ini memang fakta.

Makanya, di presentasi itu gue nggak menyajikan sesuatu yang hitam-putih, siapa yang salah dan benar.

Tapi bener-bener breakdown segala permasalahan strukturalnya dan gimana mestinya peran tiap sektor biar bisa maju bareng.

Dengan apa?

Dengan nunjukin dan ngerangkai datanya jadi satu argumen yang valid.

Terus ngembangin argumen tersebut jadi sebuah study case kecil-kecilan biar orang lebih punya bayangan soal how the system works.

T&: Kalo audiensnya nggak familiar sama topik ekonomi, biasanya lo buka dari mana biar tetap relate?

UV: Karena waktu itu tema yang gue bawa sebenernya cukup jauh dari audiensnya—designer dan brand strategist, gue usahakan dua ini:

Pertama — Cari common ground.

Gue mau ngebukanya dengan sesuatu yang relate dulu, sih. Jadi, gue cari common ground-nya di mana, apa hal yang kira-kira mayoritas audiens rasakan.

Kedua — Kasih fakta yang konklusif.

Sadar isunya kompleks dan ber-layer, setelah itu gue langsung kasih fakta yang cukup konklusif. Kayak current state ekonomi & UMKM kita gimana dan apa dampaknya sistem ekonomi kita ke industri kreatif.

Itu bakal jadi benang merah biar arahnya nggak terlalu melebar.

T&: Di bagian yang masih eksploratif, gimana lo deliver tanpa kelihatan ragu tapi tetap ngajak mikir bareng?

UV: Nah, bagian gue ngebawa orang-orang untuk berimajinasi itu, kan, sebenernya hal yang gue banyak questioning juga, ya.

Justru sekalian aja gue lempar ke audiens. Jadi study case bersama untuk membayangkan hal-hal yang ideal.

Juga sebagai pemantik diskusi atau minimal refleksi diri: Apa, sih, sebenernya yang salah sama sistem dan kebijakan ekonomi kita? Jadi bisa ‘explore’ bareng.

Tapi sebelumnya, di depan gue tetep bikin semuanya ada di mindset yang sama dulu, dengan ngejabarin problem yang akan diangkat.

T&: Kalau banyak data, gimana lo decide mana yang harus langsung keliatan vs mana yang di-reveal pelan-pelan?

UV: Pertama — Tentuin key message.

Kedua — Pilih format untuk nge-translate key message itu.

Bisa berupa visual atau teks, sesuai kebutuhan mana yang akan lebih punya impact besar.

Kedua — Mainin timing animasi untuk ngebawa ritme.

Jadi orang akan fokus dulu ke informasi-informasi yang penting, alih-alih langsung dikasih liat semua teks di waktu bersamaan. Selipan animasi ini juga sebenernya ngasih jeda ke diri gue biar nafas dulu.

T&: Gimana cara lo ngejaga balance antara bikin ide kompleks jadi simpel tanpa kehilangan kredibilitas?

UV: Menurut gue, kedua hal itu wajib dalam presentasi. Karena kita harus bisa mengkomunikasikan ide tersebut, nggak cuma biar ide besar kita mudah dipahami tapi tetep harus meyakinkan dan credible.

Cara gue nyeimbangin keduanya dengan pake bahasa yang efektif, nggak jargonistik atau terlalu teknis, dan bikin presentasinya jadi sedikit storytelling.

Karena gue pribadi pun, nggak suka presentasi yang terlalu bertele-tele.

T&: Kalau diringkas secara teknis dan emosional, presentasi di conference terbuka itu kayak apa, sih, buat lo?

UV: Ternyata ada nagih-nagihnya dikit hehe. Kalo secara teknis, mungkin karena pengalaman sebelum conference-nya juga seru. Kayak mulai dari mentoring sama T&DON, sampe konsul ke para kurator.

Akhirnya, secara emosional jadi berasa banget semangat conference yang dibangun bareng-bareng. Nggak ada jarak juga antara audiens dan speaker-nya.

Terakhir, ini sesuatu yang personal banget, sih. Waktu submission dibiarin secara anonim,

Ternyata hasilnya kebanyakan speaker-nya perempuan—di saat kebanyakan conference biasa didominasi sama all-male panelist.


3 practical tips we can learn from Uta’s experience.

1. Build argument, not opinion.
Susun data jadi alur yang masuk akal, bukan sekadar klaim opini aja.

2. Hindarin framing “black-and-white”.
Buka ruang buat ngeliat kompleksitas dengan breakdown data yang mendukung argumen.

3. Use pacing to guide attention.
Jangan show semua sekaligus. Kasih flow lewat penekanan visual teks, gambar, atau animasi sederhana.

Previous
Previous

Presentasi soal Authenticity Pada Self Branding di Conference? | Vania Evan

Next
Next

Presentasi Soal Berbagai Topik di Depan Anak TK? | Indira Larasati