Presentasi Soal Berbagai Topik di Depan Anak TK? | Indira Larasati
Anak usia TK punya rasa penasaran yang enggak bisa diprediksi — kadang pertanyaannya muncul begitu saja, kadang topiknya jauh lebih kompleks dari yang kelihatannya. Kali ini, T&DON ngobrol bareng Indira Larasati, Teacher di HEI Schools Senayan, soal gimana rasanya membersamai proses belajar anak-anak usia dini: dari menjaga mereka tetap engaged, menyederhanakan topik rumit tanpa kehilangan makna, sampai merespons hal-hal sensitif dengan tenang.
“We were once children, but we only got to be children once. Let’s do better for all the children inside of us!”
T& (T&DON): Sebagai guru TK, rasanya gimana, sih, jelasin topik yang kadang datang tiba-tiba dari rasa penasaran anak-anak?
IL (Indira Larasati): Tentunya tidak kalah deg-degan dengan presentasi ke orang dewasa!
Seru karena dalam prosesnya kami lebih sering mencari tahu bersama-sama ketimbang sekadar menjelaskan satu arah.
T&: Di kelas yang fokusnya gampang pindah, gimana biasanya kamu bikin mereka tetap engaged?
IL: Salah satu cara yang kami terapkan di kelas adalah:
Duduk bersama dan memulai sesi cari tahu dengan kalimat ajakan seperti, ‘Let’s have a meeting!’ atau ‘I really want to show you something!’
Sehingga anak-anak merasa peran mereka sangat penting dalam diskusi tersebut.
Keterlibatan adalah interaksi dua arah. Dengarkan pertanyaan-pertanyaan anak, berikan mereka ruang untuk merespon, dan tanggapi dengan baik.
Saat menemukan fakta baru yang menarik, jangan ragu untuk mengekspresikan rasa kagum bersama mereka.
A little, ‘Do you know that? I just knew that as well!’ goes a long way! Walk and find out with them. Get involved and get excited together!
Hal penting yang perlu diingat, selayaknya orang dewasa, bentuk keterlibatan anak tentunya berbeda-beda sesuai dengan minat terhadap topik yang dibicarakan.
Anak yang terlihat bosan belum tentu tidak memerhatikan isi obrolan.
Biarkan mereka melibatkan diri dan mengolah informasi dengan cara masing-masing.
T&: Kalau anak nanya hal yang polos tapi topiknya kompleks, gimana kamu simplify tanpa kehilangan makna itu?
IL: Di kelas, kami mencoba menggunakan perumpamaan dan bahasa yang familiar dengan kehidupan sehari-hari.
Sama seperti kita yang sudah dewasa, semakin relevan dan dekat dengan keseharian maka semakin mudah juga sebuah topik akan dipahami.
Seperti saat aksi protes terjadi akhir tahun kemarin dan anak-anak menjalani Pembelajaran Jarak Jauh. Dengan bantuan buku cerita bergambar, kami menyandingkan situasi tersebut dengan menyampaikan pendapat di kelas.
Kenapa mereka harus diam di rumah? Karena saking banyaknya orang yang ingin bersuara, maka orang-orang itu berkumpul sampai memenuhi jalan-jalan besar sehingga jalanan tidak mungkin bisa dilalui kendaraan untuk bisa sampai di sekolah.
Semakin banyak dan lantang orang yang bersuara, maka kemungkinan besar pendapatnya akan lebih didengar.
Tanggung jawab orang dewasa adalah membantu menyederhanakan topik kompleks tanpa menghilangkan fakta dan tanpa menambahkan prasangka ke dalamnya.
T&: Seberapa penting visual atau tools kayak buku, video, atau objek buat bantu mereka paham?
IL: Kami banyak menggunakan buku cerita, video pendek, ilustrasi, bahkan objek sehari-hari untuk menyampaikan topik dengan lebih baik.
Buku cerita dengan ilustrasi adalah salah satu media penting yang sering kami gunakan untuk membahas topik-topik sensitif dan kompleks.
Seperti topik soal perasaan, keberagaman, lingkungan, kesehatan, sampai pentingnya menjaga kebersihan diri.
Tokoh dengan permasalahan yang serupa dan jalan cerita yang sederhana dapat membantu anak-anak untuk mengurai serta memahami situasi yang terjadi dengan lebih mudah.
Untuk hal-hal bertema ilmiah dan sejarah, kami seringkali menonton video-video berdurasi pendek.
Video membantu anak lebih leluasa membayangkan bagaimana dunia dan hal-hal di dalamnya bekerja sembari duduk di ruang kelas.
Seperti saat kami membicarakan soal letusan gunung berapi dan bagaimana para astronot bekerja di luar angkasa.
Tapi tentu akan lebih baik lagi jika anak-anak dapat mengamati dan mengalami langsung topik yang sedang dibicarakan.
Seperti saat kami membahas pentingnya mengikuti peraturan lalu lintas dengan mengajak mereka mengendarai sepeda atau skuter di jalanan yang kami buat lengkap beserta rambu-rambunya, bahkan mereka pun diajak untuk mencuci kendaraan masing-masing!
T&: Kalau ada anak ngomong sesuatu yang sensitif atau unexpected, biasanya kamu responnya gimana biar tetap aman buat mereka?
IL: Sebisa mungkin mencoba tidak reaktif.
Berikan jeda untuk merespon dengan tenang. Tanyakan kembali, ‘Apa yang kamu tahu soal hal tersebut?’ atau ‘Dari mana kamu dengar hal tersebut?’ alih-alih langsung menegur.
Seringkali anak-anak hanya mengulang kembali apa yang mereka dengar atau menggunakan istilah tanpa mengetahui apa arti yang sebenarnya.
Tugas orang dewasa untuk membantu mereka memahami dengan lebih baik. Setelah anak menjawab, pelan-pelan kembalikan pembicaraan ke topik semula.
Sampaikan pujian dan penjelasan saat bersama-sama, simpan nasihat dan teguran untuk interaksi empat mata.
T&: Dari semua pengalaman ini, apa insight terbesar soal cara anak-anak memahami dunia?
IL: Ketidaktahuan itu bukan sebuah kesalahan. Yang seringkali salah adalah respon lingkungan dan orang-orang di sekitar.
Sejauh apa kita mau mendengarkan? Sejauh apa kita membantu mengarahkan? Sejauh apa kita mau mencari tahu bersama-sama?
Kegigihan anak-anak untuk mencari tahu dan bertanya tanpa rasa takut akan pandangan orang lain tentu jadi pengingat bagi kita untuk membuka mata lebih luas dan berani untuk memahami dunia.
Lagipula, bukankah ini dunia yang kita tempati bersama-sama sebagai anak maupun dewasa?
3 practical tips we can learn from Indira Larasati’s experience.
1. Invite, don’t instruct.
Pakai kalimat kayak “let’s find out together” biar mereka ngerasa diajak, bukan diajarin.
2. Bikin relate ke konteks sehari-hari.
Topik sekompleks apapun jadi lebih masuk kalau dikaitkan ke hal yang mereka kenal.
3. Be responsive, not reactive.
Dengarkan, pahami pelan-pelan, dan beri anak ruang buat menjelaskan. Kadang mereka cuma lagi nyusun pemahaman.