Presentasi Workshop Yoga Pake Pendekatan Psikologis? | Khansa Khairunnisa

Gimana rasanya ketika kamu harus “mempresentasikan” sesuatu yang selama ini kamu sampaikan lewat tubuh dan perasaan — bukan kata-kata — di depan sesama guru yang sudah berpengalaman?

Bagi Khansa Khairunnisa, Yoga & Breathwork Teacher, itulah tantangan nyata yang ia hadapi ketika membawa workshop yoga dengan pendekatan psikologis ke hadapan teman-teman seprofesinya. Bukan cuma soal menyampaikan teknik, tapi juga soal bagaimana caranya bikin orang feel it, bukan sekadar know it. Jadi, apa rasanya presentasi workshop yoga pake pendekatan psikologis?


“Menurutku, mengajar itu bukan tentang telling people what to do tapi lebih mengajak orang menyelami pengalamannya sendiri.”

Khansa Khairunnisa

T& (T&DON): Dari daily class ke workshop, apa tantangan terbesar saat harus “mempresentasikan” yoga ke sesama guru?

KK (Khansa Khairunnisa): Ada rasa takut buat presentasiin my workshop di depan teman-teman guru yang lain. Tapi, in my daily yoga class, I often tell my students, “Sometimes it’s the fear that is holding us back, while actually our body is capable of doing hard things.” So I try to embody that off the mat.

T&: Dengan background psikologi, gimana cara kamu membaca dinamika ruang, bukan cuma individu di dalamnya?

KK: Pendekatan psikologi paling membantu dalam menjadi pengajar yoga — baik di daily class maupun workshop — adalah memahami konsep individual differences. That people have different backgrounds, different understanding, different body, and many others. Those help me to expand my teaching perspective that each bodies need a different approach in learning.

Kalau di workshop, aku lebih mengajak mereka recall pengalaman sebagai practitioner atau guru, kemudian baru kita bahas teorinya. Tujuannya biar teori itu nggak cuma berhenti di kepala aja tapi juga bisa mereka apply to their teachings or their practice.

T&: Dari sisi presentasi, apa fungsi momen savasana + nyanyi itu dalam daily class?

KK: Sejujurnya, jadi USP (Unique Selling Point) aja, sih, karena aku hobi nyanyi hahaha. Tapi di sisi lain, ternyata hal itu jadi emotional anchor buat students yang hadir dan jadi experience unik buat mereka.

T&: Setelah sering berdiri di depan sesama guru, apa yang paling berubah dari cara kamu memaknai peran sebagai pengajar?

KK: I was thinking that teaching yoga is about making a good sequence or being different from other teacher. Karena yoga teacher udah banyak banget, kan, especially di Jakarta Selatan.

Tapi setelah 4 tahun mengajar, what I realize is people come to me because they like my teachings and my approach. So instead of being different, I just need to be myself. Being authentic is always the biggest charm of a person.

Dari ketakutan tampil di depan sesama guru, hingga menemukan bahwa keautentikan adalah kekuatan terbesar seorang pengajar — Khansa membuktikan bahwa mengajar yang sesungguhnya bukan tentang menjadi sempurna atau berbeda. Tapi tentang hadir sepenuhnya, dan mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama.

Artikel ini adalah bagian dari seri wawancara eksklusif T&DON dengan para profesional yang berhasil meng-overcome berbagai tantangan dalam presentasi penting dalam hidup mereka.


3 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Khansa

1. Break the “wall” through experience.
Jangan langsung ngajarin. Ajak peserta recall pengalaman mereka dulu, baru masuk ke konsep atau teori.

2. Let the body do the learning.
Message nggak harus selalu lewat kata. Arahin attention peserta ke sensasi, refleksi, dan awareness tubuh.

3. Be present, not performative.
Nggak perlu obsessed untuk “jadi beda”. Presence yang autentik justru jadi koneksi paling kuat sama audiens.

Next
Next

Presentasi Sebagai Fasilitator di Depan Berbagai Audiens? | Elsa Christine