Presentasi ke Mahasiswa di Plaza Design 2025? | Danu Karunia
Presentasi ke mahasiswa yang bisa dipotong kapan aja itu format yang enggak semua orang nyaman menghadapinya — apalagi kalau audiensnya kritis dan enggak segan buat interupsi. Kali ini, T&DON ngobrol bareng Danu Karunia, Creative & Design Consultant dan Founding Partner of Numiro, soal gimana rasanya membangun presentasi yang dua arah: dari menjaga diskusi tetap fokus tanpa mematikan flow, membedah reasoning di balik karya alih-alih sekadar pamer portofolio, sampai membagikan realita industri yang jarang diajarin di kampus.
“Gue lebih milih materi nggak habis tapi mereka dapet ‘aha! moment’ yang dalem, daripada materi kelar semua tapi mereka cuma dapet kulitnya doang. Quality over quantity, always.”
T& (T&DON): Di format yang bisa di-interrupt kapan aja, lo ngerasa lebih bebas atau justru lebih ke-challenge?
DK (Danu Karunia): Wah, justru gue malah ‘hidup’ di format kayak gini. Kalo monolog gitu mending gue bikin video YouTube aja sekalian dapet Silver Play Button lagi, kan? 😂
Pas gue di Plaza Design kemarin, balik ke Binus itu rasanya kayak pulang ke rumah. Anak-anak Syahdan & Alsut itu basic-nya kritis dan curious.
Jadi kalau mereka motong, buat gue itu tanda mereka ‘hadir’. Gue nggak ngerasa alur gue putus, gue ngerasa kita lagi jamming bareng. Jadi jauh lebih bebas buat connect secara intelektual dan emosional sama mereka.
T&: Gimana lo bikin deck nggak cuma estetik, tapi beneran jadi roadmap yang kebaca?
DK: Nah, ini jebakan maut desainer: over-aesthetic.
Pas gue bikin deck-nya, visual itu gue posisikan sebagai bridge aja untuk materinya. Gue nggak mau pamer ‘liat nih karya gue’, tapi gue bedah reasoning di baliknya.
Lebih ke prosesnya yang sangat jarang dibahas, bukan ngomongin ke portfolio-nya. Gue pengen mereka liat slide gue dan mikir, ‘Oh, pantesan hasilnya begini, jalurnya ternyata begitu.’
Jadi portofolio gue cuma jadi bukti dari roadmap yang gue kasih sesuai dengan realitas yang gue jalanin.
T&: Di diskusi yang super aktif, gimana lo jaga biar tetap fokus tanpa matiin flow?
DK: Gue jaga suasana tetep lively pake humor, biar mereka nyaman, tapi curiosity gue arahin ke substansi.
Kalau ada yang mulai melantur atau nanya yang terlalu jauh dari konteks, gue nggak bakal ‘matiin’ mereka secara kaku.
Biasanya gue bungkus pake candaan, terus gue circling back pake pertanyaan atau statement realita yang gue temui selama gue berkarir yang ‘i wish i know this sooner’.
T&: Gimana lo ngatur tempo presentasi supaya format “tanya-jawab kapan pun” ini nggak bikin materi utama lo malah nggak habis?
DK: Kebetulan waktunya cukup panjang dan bagi gue ini kepanjangan dibanding biasanya. That’s why salah satu inisiasi formatnya dua arah ini.
Walaupun awalnya itu kebanyakan tektokan hanya sama moderatornya aja, di akhirnya pas slide makin teknis mereka jadi jauh lebih serius muka-mukanya.
Gue tuh sangat merhatiin ekspresi mereka detail sebenarnya, karena bagi gue experience matters.
Ke mana pun gue, yang pasti gue notice itu experience-nya.
Begitu juga saat presentasi. Kalau bahasan teknis bikin mereka ngantuk, gue lempar jokes atau langsung loncat ke case study yang lebih juicy.
Gue lebih milih materi nggak habis, tapi mereka dapet ‘aha! moment’ yang dalem, daripada materi kelar semua tapi mereka cuma dapet kulitnya doang.
Quality over quantity, always.
T&: Kalau berhadapan sama audiens yang nggak setuju sama argumen lo, gimana cara lo respon tanpa kedengeran defensif?
DK: Kalau ada mahasiswa yang nantang atau punya opini beda, gue nggak bakal bilang ‘Lo salah karena gue lebih senior’. Itu outdated banget. 😂
Gue bakal bilang, ‘Menarik, coba kita bedah pake framework ini...’.
Gue ajak mereka liat dari sudut pandang yang lain.
Gue pengen nunjukin kalau di industri kreatif, ‘bener’ itu relatif tergantung konteksnya, tapi ‘efektif’ itu ada ukurannya.
T&: Dari semua yang lo share, apa satu hal yang menurut lo paling “realita industri” tapi jarang diajarin?
DK: Ada satu hal yang gue ‘tembak’ langsung ke mereka kemarin, dan ini mungkin terdengar pahit buat mahasiswa yang lagi ambis-ambisnya belajar software:
Skill desain itu cuma 30%.
Gue bedah journey gue yang nggak linear—dari Content Creator ke Creative Director di Digital Media Creative sampe jadi Art Director di Brand Consultancy—ternyata 70% sisanya itu hal-hal yang nggak pernah ada di kurikulum kampus desain / DKV.
Kita nggak diajarin:
cara baca situasi di ruangan,
cara ngomong ke orang penting (decision makers) biar ide kita nggak cuma dianggap hiasan,
cara kurasi selera yang sophisticated tapi tetep masuk akal secara bisnis.
Karena ini bukan soal seberapa jago lo bikin layout yang estetik, tapi seberapa accurate lo dalam solving problem dan gimana lo me-manage ekspektasi orang di sekitar lo.
Gue pengen mereka paham kalau desain itu bukan cuma soal visual, tapi soal keputusan. The game has changed, the ladder is shaking.
Kalau lo cuma ngandelin 30% skill teknis itu, lo bakal gampang digantiin.
Tapi kalau lo punya empati dan explore 70% skill set sisanya, di situlah lo beneran jadi ‘pemain’ di industri ini.
3 practical tips we can learn from Danu’s experience.
1. Bangun narasi bareng.
Interupsi kita fungsiin sebagai tanda audiens hadir dan mikir. Jadi bukan kita yang “lost control”, tapi konsepnya memang “bangun diskusi bareng”.
2. Reveal thinking, not authority.
Kalau ada yang beda pendapat, ajak breakdown bareng. Jangan defensif dan jawab dengan “gue lebih tau”, tapi dengan cara berpikir.
3. Showcase is cool, but context is what makes it land.
Kalau slide isinya karya, jangan berhenti di visualnya. Tarik audiens masuk ke reasoning atau journey di baliknya.