Presentasi Sebagai Mentor di Apple Developer Academy? | Adhe Tertiasusman

Bagi Adhe Tertiasusman, presentasi bukan cuma soal menyampaikan materi—tapi soal membaca ruangan. Sebagai Design Mentor di Apple Developer Academy @ IL, ia belajar bahwa cara “hadir” di depan sesama mentor jauh berbeda dengan di depan para learners. Di satu sisi ia jadi speaker, di sisi lain ia harus jadi listener yang baik. Dalam obrolan santai bersama T&DON, Adhe berbagi soal keseimbangan antara otoritas dan kerendahan hati, serta kenapa mengaku “aku nggak tahu” justru bisa membangun kredibilitas.



“Ngomong, ‘aku nggak tahu.’ lebih sering dari yang kamu kira perlu. Dan ngomongnya tanpa malu. Karena lebih baik nggak tahu daripada pura-pura tahu—yang justru hasilnya bisa jadi misleading.”

T& (T&DON): Pas present di depan mentor vs learners, apa beda terbesar dari cara kamu “hadir” di ruangan?

AT (Adhe Tertiasusman): Kalau present di depan fellow mentor, fokusnya lebih ke gimana aku jadi speaker yang lebih baik.

Cara aku nyampein sesuatu—udah tepat belum, udah presisi belum, atau bahkan ada cara yang lebih baik dari yang aku lakuin sekarang.

Kalau di depan learners, beda lagi. Fokusnya justru ke:

Gimana aku jadi listener yang lebih baik.

Karena nggak ada cara lain untuk improve dalam milih kata ke learner selain dengerin langsung dari mereka.

T&: Gimana kamu tetap pede present ke audiens teknis tanpa harus jadi “paling benar”?

AT: Justru jadi pede itu udah bagian dari tanggung jawabku. Punya kesempatan ngobrol sama audiens itu sendiri udah privilege.

Mereka bawa sudut pandang yang kadang nggak aku punya.

Kepercayaan diriku bukan dari ngerasa paling bener, tapi dari nyaman untuk salah di depan semua orang.

Keterbukaan itu sendiri yang jadi kredibilitasku.

T&: Kita tahu Apple punya standar visual “minimalism” yang sangat tinggi. Buat kamu, minimalism di slide itu soal visual kosong atau soal kejelasan berpikir?

AT: Buatku minimalism bukan soal sedikit kata, tapi soal kata yang punya tujuan. Setiap elemen di slide harus sesuai tempatnya.

Kalau ngilangin sesuatu malah bikin learner bingung, ya artinya minimalism-nya nggak tepat di situ. Aku nggak lagi nyoba bikin sesuatu jadi simple aja tanpa mikirin apakah momennya tepat atau nggak.

Aku lebih pilih slide yang sedikit padat tapi hit the point, daripada yang bersih tapi missing the point.

T&: Gimana cara kamu nentuin mana materi yang “mereka butuhkan” vs “mereka inginkan”?

AT: Ini sebenernya udah ada di value Academy sendiri.

Sebelum ngerti cara kerja yang lebih mudah, cara berpikirnya dulu yang harus dibenerin.

Dan ini makes sense banget kalau ngeliat konteksnya. Learner yang datang ke Academy itu kebanyakan lagi di tengah proses, punya deadline, punya tekanan.

Jadi yang paling mereka inginkan, ya wajar—kecepatan. Tools, shortcut, cara cepet.

Tapi, yang mereka butuhkan adalah cara berpikir. Karena tools berkembang dan berubah, tapi cara berpikir yang matang bisa dipakai di tool apapun.

Keyakinan ini datang dari dua tempat: pengalamanku di tahun pertama ngajar di Academy, dan pengalamanku sendiri sebagai learner sebelumnya. Aku pernah ada di posisi mereka—jadi aku tau bedanya.

T&: Ada “Working Theory” soal mentorship yang baru kamu temuin setelah ribuan jam presentasi di Apple Academy?

AT: Ngomong “Aku nggak tahu,” lebih sering dari yang kamu kira perlu.

Dan ngomongnya tanpa malu. Lebih baik nggak tahu dan ngomong nggak tahu—karena bisa punya diskusi setelahnya—daripada nggak tahu tapi pura-pura, yang justru hasilnya bisa jadi misleading.

Working theory-ku selalu harus bisa berkembang. Yang artinya apa yang aku bilang bulan lalu bisa aja berubah bulan ini.

Dan aku nggak takut bilang ke learner: “Dulu aku jawab beda, sekarang aku ganti pikiran.”

Itu bukan kelemahan. Justru itu yang pengen aku modelin ke mereka.

T&: Gimana cara tetap punya otoritas tanpa bikin learners takut salah atau takut nanya?

AT: Di aku, nggak ada mode khusus yang aku nyalain waktu presentasi.

Aku selalu ngusahain pakai bahasa yang deket sama mereka. Tujuannya biar apa yang aku sampein tetap mudah dimengerti.

Termasuk untuk secara terbuka ngakuin kalau memang ada hal yang aku nggak tahu.

Waktu mereka lihat aku nggak pura-pura sempurna, jaraknya langsung menyusut.

Aku percayain mereka dengan ketidakpastianku, jadi mereka percayain aku dengan kebingungan mereka. Dan dari situ ruangan jadi lebih terbuka.

Selain itu, dari awal aku juga udah set ekspektasinya—kalau ada yang kurang dimengerti, it’s very okay to cut and ask in the middle.

Dan itu bukan cuma omongan, karena aku memang selalu willing untuk menjawab dan open untuk menjelaskan ulang.

T&: Selain slide bagus, skill teknis presentasi apa yang paling underrated buat mentor baru?

AT: Tahu kapan harus pause.

Bukan buat efek dramatis aja, tapi untuk menekankan point yang ingin disampaikan jadi lebih strong dan lebih mudah sampai ke audiens.

Pause itu cara terbaik kasih waktu ke audiens buat “mendarat” di apa yang baru aku bilang, sebelum aku lanjut ke poin berikutnya.

Aku nggak mau egois dengan ngomong cepet yang justru ngebuat audience jadi sibuk ngikutin semua pesannya, tanpa ngerti secara dalam apa maksud dari poinnya.


3 practical tips we can learn from Adhe’s experience.

1. Shift from speaker to listener.
Di depan learners, tugas utama bukan cuma ngajarin, tapi nangkep cara mereka mikir. Presentasi bagus belum tentu nyampe kalau kita nggak dengerin.

2. Minimalism = clarity, bukan kosongan.
Slide nggak harus kosong. Yang penting, tiap elemen jelas fungsinya dan bantu audiens ngerti lebih cepat.

3. “I don’t know” builds credibility.
Pede bukan soal selalu benar. Kadang trust dan safety bisa tumbuh pas kita cukup terbuka buat ngaku belum tahu.

Previous
Previous

Presentasi Workshop Yoga Pake Pendekatan Psikologis? | Khansa Khairunnisa

Next
Next

Presentasi ke Mahasiswa di Plaza Design 2025? | Danu Karunia