Presentasi Soal 'Figuring Life Out' di Depan Ribuan Gen Z? | Sarah Ardiwinata

Sarah Ardiwinata adalah Co-Author of Leadership XYZ yang percaya kalau menunjukkan vulnerability bukan soal membuka semua hal secara mentah, tapi soal keberanian untuk jujur secukupnya dan mengemas kejujuran itu jadi cerita yang berarti buat orang lain. Berikut cerita Sarah soal gimana dia meracik presentasi ‘Figuring Life Out’ di depan ribuan Gen Z, biar pesannya nyampe tanpa terasa menggurui.



“Aku percaya bahwa menunjukkan vulnerability bukan tentang membuka segala hal secara mentah, tapi tentang keberanian untuk jujur secukupnya, lalu mengemas kejujuran itu menjadi cerita yang bisa punya arti untuk orang lain.”

T& (T&DON): Waktu lihat ribuan Gen Z yang sama-sama lagi figuring life out, apa yang langsung kepikiran waktu naik ke panggung?

SA (Sarah Ardiwinata): Di ruangan ini ada ribuan anak usia 20an. Rasanya aku yakin, di balik wajah-wajah yang kelihatan excited, rapi, ketawa, atau penuh semangat itu, masing-masing pasti lagi bawa isi kepala yang riuh.

T&: Pas nyusun materinya, sempat kepikiran takut terdengar terlalu ‘menggurui’? Karena audiens umur 20-an lumayan sensitif sama sesuatu yang feels too preachy.

SA: Jujur, enggak terlalu. Aku ngerasa aku adalah mereka, dan mereka adalah aku, sehingga dari awal aku memang nggak datang dengan mindset mau ngasih materi, apalagi memotivasi.

Makanya aku lebih memilih pendekatan yang setara. Bukan dateng sebagai orang yang paling tahu hidup, tapi sebagai seseorang yang juga lagi figuring life out.

Dan menurutku, generasi kami bukan anti nasihat. Kami cuma sensitif sama sesuatu yang terasa terlalu jauh, terlalu kaku, atau seakan terlalu menceramahi tanpa memahami.

Karena kadang di usia 20an ini, yang dibutuhin bukan solusi, tapi validasi bahwa kita nggak ngelewatin semuanya sendiri.

T&: Apa bagian paling challenging dari presentasi di depan ribuan anak muda? Delivering the message? Energinya? Atau pressure buat stay relatable?

SA: Gimana caranya buat cerita yang sangat spesifik dan personal yang aku ceritakan nggak berhenti jadi ‘cerita tentang gue’, melainkan bisa jadi cermin tempat orang lain ngeliat potongan dirinya sendiri.

Karena mungkin kisah setiap orang beda-beda, tapi rasa yang kita bawa sering kali serupa: rasa bingung, capek, khawatir, takut tertinggal, dan trying to survive adulthood.

Jadi challenge-nya adalah gimana mengemas cerita (baik secara narasi maupun dukungan visual yang ditampilkan), supaya ketika mereka pulang, mereka bukan cuma ingat siapa yang bicara, tapi juga membawa pulang perasaan: “Tadi rasanya kayak lagi ngelihat diri sendiri.”

T&: Banyak speaker takut terlihat terlalu vulnerable di atas panggung. Tapi di sisi lain audiens sekarang justru connect sama honesty. Menurutmu batas idealnya di mana?

SA: Menurutku, menuangkan dan mengungkapkan emosi yang kita rasain atas pengalaman yang kita lewatin itu nggak perlu dibatasi, harus genuine aja, apa adanya.

Yang paling penting justru memastikan bahwa pengalaman, luka, ketakutan, atau perasaan yang kita bagikan itu punya muara.

Yang terpenting jangan berhenti di emosi, tapi bergerak menuju refleksi.

Makanya aku percaya bahwa menunjukkan vulnerability secara jujur bukan tentang membuka segala hal secara mentah, tapi tentang keberanian untuk jujur secukupnya, lalu mengemas kejujuran itu menjadi cerita yang bisa punya arti untuk orang lain.

Jadi batas idealnya mungkin bukan soal seberapa dalam kita membuka luka, tapi apakah cerita itu punya arah dan pesan yang jelas.

T&: Pas bawain topik kaya gitu, apakah pernah ada concern kalau audience cuma akan melihatnya sebagai ‘another motivational talk’? Dan gimana cara menghindari itu?

SA: Aku berdiri di hadapan mereka bukan untuk ngasih semangat atau nasihat. Aku cuma mau ‘curhat’.

Aku bahkan ingin nunjukkin kalau di usia segini kita sebenarnya nggak kurang motivasi, malah terlalu sering mendengar motivasi, sampai lupa rasanya didengar. Makanya aku lebih memilih untuk bercerita.

Sebab mungkin lewat data kita bisa tahu sesuatu, dan lewat nasihat kita bisa memahami sesuatu, tapi lewat cerita, barangkali sesuatu bisa tinggal dan menetap lebih lama di hati. Dan menurutku, nggak ada yang lebih menenangkan daripada sadar kalau, ‘ternyata ada orang lain yang juga lagi ngerasain ini.’

T&: Satu pesan yang pengen banget kamu sampein buat orang-orang umur 20-an setelah keluar dari sesi waktu itu, kira-kira apa sih?

SA: Guys, our 20s are only the ‘first draft’, not the whole book.

Dan first draft memang cenderung akan selalu berantakan. Ada yang salah, ada yang harus diulang, ada yang harus dicoret. Tapi yang namanya draft, hanya bisa direvisi kalau tulisannya ada. Artinya kita harus ‘nulis’. Kita harus gerak, harus terus ikhtiar.

Karena pada akhirnya, ada yang lebih serem dari hidup yang berantakan, yaitu hidup yang nggak ke mana-mana. So guys, let’s face this ‘hell’ not with perfection, but with dignity.


3 practical tips we can learn from Sarah’s experience.

1. Validasi dulu, baru arahin.
Orang bakal lebih mudah menerima pesan ketika mereka merasa dipahami dulu. Ini kunci koneksi yang kuat.

2. Think reflection, not motivation.
Kadang audiens nggak butuh disemangatin. Mereka cuma butuh ruang untuk berhenti sebentar dan ngeliat hidupnya dari perspektif yang berbeda.

3. Datang buat ngobrol, bukan menggurui.
Orang lebih gampang connect sama orang yang juga masih belajar karena kadang yang dibutuhin bukan solusi, tapi rasa bahwa mereka nggak sendirian.

Previous
Previous

Presentasi Workshop Yoga Pake Pendekatan Psikologis? | Khansa Khairunnisa

Next
Next

Presentasi Soal Proses Kerja di Agency ke Mahasiswa? | Belmiro Hasballah