Presentasi Soal Proses Kerja di Agency ke Mahasiswa? | Belmiro Hasballah

Belmiro Hasballah, atau akrab disapa Belmo, adalah Creative & Design Consultant sekaligus Founding Partner di Numiro. Buat Belmo, sharing knowledge ke mahasiswa bukan cuma soal transfer informasi — di zaman yang aksesnya serba terbuka begini, ilmu bisa dicari di mana aja. Yang lebih penting adalah energi dan kehadiran penuh saat berbagi cerita. Berikut cerita Belmo soal gimana dia meracik materi presentasi proses kerja di agency biar terasa relate dan applicable buat mahasiswa.



“For me, sharing knowledge comes as a secondary priority when presenting, since knowledge can be found anywhere. What matters most is our energy, our presence.”

T& (T&DON): Pas nyusun materi, lo lebih mikirin apa yang pengen di-share atau yang bakal relate buat mahasiswa?

BH (Belmiro Hasballah): I think it’s selalu irisan dari dua hal itu. Apa yang gue punya, dan gimana caranya itu bisa dicerna sama mereka.

Karena banyak hal di industri kreatif, tuh, sering terlalu oversimplified. Padahal ideation, komunikasi, atau creative thinking itu ada framework dan cara kerjanya juga.

Jadi, biasanya gue mulai dari nyamain pemahaman dulu, baru ngajak mereka navigasi bareng dari situ. Goal akhirnya, ya, bikin hal yang kompleks terasa lebih actionable dan applicable buat mereka.

T&: Kenapa menurut lo proses kreatif lebih penting dibuka dibanding cuma nunjukin hasil akhirnya?

BH: I think this correlates a lot with being relatable to the audience. Karena sekarang ngeliat karya bagus, tuh, gampang banget, tinggal buka internet atau social media. Tapi justru karena terlalu sering lihat “great work”, banyak orang jadi ngerasa kecil duluan. Kayak, “gue gak akan kepikiran sampai situ.”

Makanya gue lebih suka ngebahas proses dan ‘eureka moment’-nya. Buat gue penting buat nunjukin kalau creative work itu bukan sulap.

Gue percaya apa yang kita produce itu hasil dari apa yang kita konsumsi dan lakukan setiap hari. Apa yang lo baca, tonton, pikirin, sampai obrolan yang lo punya pelan-pelan kebawa ke cara lo berkarya. So in a way, I don’t really ‘produce’ creative things. I practice creativity.

T&: Waktu ngejelasin workflow kayak gitu ke mahasiswa, gimana cara lo bikin mereka ngerti bahwa creative process tuh nggak selalu linear?

BH: This is something that we call serendipity, happy little accidents. Karena di real working process, hampir impossible bikin semuanya 100% sesuai rencana. Makanya penting buat expect the best but prepare for the worst, jadi pas ada hambatan unexpected kita gak langsung panik.

Menurut gue juga penting buat lihat sesuatu dari micro dan macro perspective. Sebelum mulai, ngerti dulu bigger picture-nya: tujuan akhirnya apa, kemungkinan hambatannya apa, dan target tiap tahap project kayak gimana.

Baru pas jalan, kita jadi lebih detail-oriented dan adaptif. Dan honestly, kadang perubahan justru jadi spark yang ngebawa project ke arah yang lebih baik. So plan for wiggle room, and train yourself to be damn good despite the changes.

T&: Biasanya gimana cara nyaring materi agency yang mungkin terlalu kompleks buat audiens umum?

BH: Buat gue, hal paling penting waktu presentasi itu knowing who you’re talking to, and that takes a lot of empathy. Mahasiswanya jurusan apa? Semester berapa? Background-nya kayak gimana? Mereka lebih nyaman full bahasa Indonesia atau mix? Hal-hal kecil begitu ngaruh banget ke cara kita nyampein materi.

Makanya gue selalu coba ngomong layaknya ngobrol sama orang, bukan ‘mengajar’. Personally gue lebih suka pake bahasa yang deket, jokes kecil here and there, analogi sehari-hari, atau cerita yang lebih relatable buat mereka.

In general, presentasi gue cukup simple dan contextual ke background audiensnya. Kalau mereka memang satu field, baru gue bisa masuk lebih teknis. But at the end of the day, semuanya balik lagi ke empathy to who you’re talking to.

T&: Waktu bikin slide atau materi, lo tipe yang mulai dari visual dulu atau dari narasi dulu?

BH: Narasi. My belief is that all communication is rooted in intent.

Pertama, interview diri sendiri dulu. Gue mulai dari nanya: gue ngomong ke siapa, energi ruangan yang gue mau kayak gimana, sesinya seberapa panjang, dan audiensnya kemungkinan bakal capek, excited, atau distracted.

Kedua, bikin outline dan ritme presentasi. Setelah itu, gue tentuin tiap slide harus ngomongin apa dan feel-nya kayak gimana. Mana bagian yang harus pelan dan reflektif, mana yang harus deliver dengan lebih powerful dan energic.

Ketiga, draft konten setelah flow kebentuk. Kalau general flow-nya udah kebentuk, baru gue masuk ke drafting konten.

Keempat, masukin design sebagai support narasi. Gue suka presentasi yang flow-nya enak, teksnya minim, visualnya simple, dan perhatian audiens tetap balik ke speaker-nya. Baru dari situ design dan storytelling masuk buat support narasinya.

T&: Misconception paling umum mahasiswa soal dunia agency tuh apa?

BH: Menurut gue ada beberapa misconception yang cukup sering muncul.

Pertama, banyak yang ngira kerja kreatif itu selalu fun. Padahal, ya… ultimately all forms of work, sucks sometimes hahaha. Gue sering bilang, “Work sucks, so make it fun.” Kalau deadline 3 hari tiba-tiba jadi 3 jam, ya treat it as challenge. Ketawain, improvisasi, cari cara bikin prosesnya tetap hidup. Karena buat banyak orang, kerja bukan soal cari perfect job, tapi gimana bikin pekerjaan itu tetap meaningful buat dijalanin.

Kedua, obsesi buat jadi “out of the box” terlalu cepat. Padahal sebelum bisa mikir di luar box, kita harus ngerti dulu isi box-nya. Fundamentals tetap penting banget. Marketing, copywriting, design, communication, consumer behavior, semuanya. Jadiin itu fondasi sebelum akhirnya bisa bikin sesuatu yang benar-benar relevan dan fresh.

Ketiga, banyak yang takut creative block seolah itu akhir dari segalanya. Buat gue, itu lebih soal tools dan exposure. Semakin luas referensi, metode brainstorming, dan cara kita ngelatih cara berpikir, semakin gampang juga keluar dari creative rut. Expand your toolbox, train the mind.

T&: Setelah semua sesi sharing yang pernah lo jalanin, ada nggak satu hal yang bikin lo sadar kalau presentasi itu sebenernya bukan cuma soal transfer knowledge?

BH: Throughout the years of sharing and presenting, gue makin sadar kalau yang paling penting itu sebenarnya hadir penuh di ruangan bersama audiens.

Karena orang bisa ngerasa kok, mana speaker yang genuinely pengen connect, mana yang cuma pengen cepat selesai atau sekadar didengar. Buat gue, sharing knowledge itu malah secondary. Informasi bisa dicari di mana aja sekarang.

Tapi yang bikin presentasi terasa hidup itu energi yang dibawa: disiplin di balik prosesnya, rasa percaya sama apa yang kita kerjain, dan gimana kita bikin audiens ngerasa, “oh… gue juga mungkin bisa sampai ke situ.” In the end, presentasi bukan cuma soal ngasih informasi, tapi soal ngajak orang ikut percaya sama kemungkinan mereka sendiri.


3 practical tips we can learn from Belmo’s experience.

1. Be fully present in the room.
Audiens bisa ngerasa mana speaker yang genuinely pengen connect, mana yang cuma pengen cepat selesai. Kadang cara kita hadir lebih kerasa daripada isi slide-nya sendiri.

2. Start from empathy, not expertise.
Sebelum nyusun materi, pahami dulu siapa audiensnya. Presentasi jadi lebih nyampe dan connect kalau kerasa deket dengan dunia mereka.

3. Teach the process, not just the outcome.
Orang udah bisa lihat karya keren di internet. Akan lebih valuable dan ngajak berproses justru dengan ngebuka cara mikir, latihan, dan proses di balik karya.

Previous
Previous

Presentasi Soal 'Figuring Life Out' di Depan Ribuan Gen Z? | Sarah Ardiwinata

Next
Next

Presentasi di Depan Ratusan Strangers di Mutual Friends? | Bella Utami