Presentasi Sebagai Career Coach di Media & TV? | Valencia Gabriella

Valencia Gabriella adalah Founder & CEO of TalentGo.ai yang percaya bahwa suara personal dan tanggung jawab profesional bisa berjalan beriringan di depan kamera. Berikut cerita Valencia soal gimana dia membawakan insight karier di media dan TV, dari menyusun jawaban dalam tiga poin sampai menjaga integritas antara apa yang disampaikan dan apa yang dijalani.


T& (T&DON): Apa bedanya rasa presentasi di TV dibanding coaching atau sesi korporat?

VG (Valencia Gabriella): Bedanya ada pada bobot tanggung jawabnya. Di sesi coaching, percakapannya lebih privat dan dinamis, dan aku punya ruang untuk berdialog dan mengklarifikasi.

Di TV, aku hanya punya satu kesempatan untuk menyampaikan pesan dengan tepat dengan adanya jejak digital dan audiens yang lebih luas.

Jadi aku harus memastikan insight yang aku berikan tidak hanya menarik dan insightful, tapi juga setiap kata yang keluar benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

T&: Dengan durasi TV yang singkat, gimana cara kamu memadatkan insight karier yang biasanya panjang jadi tetap utuh dan relevan?

VG: Memastikan setiap jawaban memiliki struktur dan prioritas yang jelas. Aku biasanya menggunakan pola tiga poin + struktur problem-solution.

Pembukaan, highlight untuk jawab inti pertanyaan.

Isi, maksimal tiga poin penting sebagai isi.

Penutup, ringkasan singkat untuk merangkum keseluruhan poin.

T&: Waktu pertama kali tampil di TV, hal teknis apa yang paling bikin kaget dan perlu cepat kamu adaptasi?

VG: Navigasi kontak mata, banyak belajar soal bagaimana cara menyeimbangkan "kapan harus melihat kamera" dan "kapan melihat host". Setup diskusinya itu bentuknya talkshow dengan adanya 1-2 kamera yang shoot ke arah kita.

Nah, dalam diskusi itu, aku ingin menjaga koneksi dengan host agar diskusi berasa natural, tapi ingin juga tetap engaging dengan penonton dengan menatap ke kamera agar terasa "eye-to-eye". Selain itu, aku juga belajar soal agility pas menjawab pertanyaannya.

Pernah saat di CNN, diskusi agak keluar jauh dari talking points yang sudah disiapkan. Di situ aku sadar bahwa di TV, aku tidak bisa hanya "hafal talking points atau materinya", tapi harus siap merespons dinamika diskusi secara spontan.

T&: Sebelum on-air, aspek delivery apa yang paling kamu latih supaya pesan terdengar clear dan nggak menggurui?

VG: Aku paling melatih struktur penyampaian, intonasi dan pausing. Aku ingin make sure yang mendengar bisa paham sama jawabannya dan bisa engaged.

Intonasi sangat penting agar terdengar antusias. Body language, karena keterbatasan ruang di TV, aku fokus pada ekspresi wajah dan gerakan tangan yang sinkron dengan apa yang aku bicarakan, agar tetap terlihat engaging.

Jeda atau pause juga penting agar audiens punya waktu untuk mencerna poin aku sebelum pindah ke kalimat berikutnya.

T&: Di tengah batasan framing media, gimana caranya kamu tetap menjaga suara personal sekaligus tanggung jawab profesional?

VG: Biasa aku research dulu apa yang boleh dibicarakan dan tidak, dan tanya ke media TV-nya, kira-kira apa saja do and donts-nya. Baru setelah itu akan menyesuaikan jawaban dari situ.

Dengan tetap berpegang pada "Bagaimana agar pesan ini dapat memberikan manfaat buat yang mendengar?" Dengan fokus pada tujuan besarnya yaitu "membantu", aku yakin jadi bisa menyampaikan opini pribadi dengan cara yang edukatif.

Jadi, suara personalku tetap terdengar, tapi tetap dikemas dalam bentuk insight yang bertanggung jawab.

T&: Dari semua pengalaman tampil di media, prinsip apa yang sekarang selalu kamu pegang saat bicara soal karier ke publik?

VG: Kalau dari aku, selalu kembali ke faktanya, sih, baik itu tren nyata di dunia kerja maupun pengalaman para klien dan coachee aku.

Intinya integritas. Menyelaraskan apa yang aku bicarakan di depan kamera dengan apa yang sebenarnya aku jalani di balik layar atau yang sebenarnya emang terjadi.

3 practical tips we can learn from Valencia's story:

1. Selalu mulai dari struktur.
Kalau waktunya mepet, struktur itu penyelamat. Buka dengan poin utama, turunin ke 2–3 ide penting, tutup dengan rangkuman singkat.

2. Engage dengan intonasi dan jeda.
Ngomong biar pesannya jelas sangat bergantung sama tempo. Jeda yang pas ngasih audiens waktu buat mencerna, apalagi di kamera.

3. Selalu berbasis praktik dan fakta.
Poinnya akan lebih relevan kalau apa yang diomongin di depan publik emang based on real case dan nyambung sama apa yang dikerjain sehari-hari.

Previous
Previous

Presentasiin Arsip Digital Sejarah Visual Indonesia? | Prinvia Prichariel

Next
Next

Presentasiin Race Strategy Buat Komunitas Pelari? | Adystra Bimo