Presentasiin Race Strategy Buat Komunitas Pelari? | Adystra Bimo

Adystra Bimo Herayanto adalah Co-Founder of Athletica yang percaya presentasi soal race strategy baru kena kalau dimulai dari rasa, bukan angka. Berikut cerita Adystra soal gimana dia membawakan workshop race strategy buat komunitas pelari, dari human insights sebelum data sampai journaling sebagai jembatan menuju kesadaran diri.



“Human insights first, data later. Bukan langsung “grafik dan angka,” tapi mulai dari cerita akan situasi latihan hari itu. Olahraga lari sangat berdekatan dengan emosi, dan emosi sayangnya tidak terlalu akurat untuk dikuantifikasi.”

T& (T&DON): Apa rasanya presentasi sekaligus bikin workshop race strategy untuk komunitas pelari?

AB (Adystra Bimo Herayanto): Ada energi unik kalau ketemu sesama pelari. Perasaan IYKYK (If You Know, You Know). Ruangan tuh langsung penuh vibe ‘kita sama-sama ngejar sesuatu.’ Camaraderie-nya berasa.

Dan yang saya suka, walaupun topiknya teknis (race planning, pacing, mental prep), ternyata diskusinya jadi lebih hidup karena tiap orang bawa pengalaman sendiri.

Buat saya sebagai coach, itu momen yang bikin merasa terharu banget bisa menjadi bagian dalam perjalanan mereka.

T&: What surprised you most about teaching mixed-level runners? Dari yang baru mulai sampe yang udah marathon berkali-kali?

AB: Yang paling Eureka moment adalah ternyata walau kebutuhan mereka beda, tapi tantangannya mirip.

Runner baru takut ‘salah strategi fueling, pacing, dll.’ atau kehabisan tenaga di tengah race.

Runner yang udah marathon berkali-kali, pun, masih takut hal yang sama, cuma bentuknya lebih halus: overpushing di awal, denial pas badan kasih warning, atau terlalu terpaku sama pace target padahal kondisi hari-H berubah.

Ternyata, pengalaman lari lebih lama nggak otomatis bikin eksekusi race strategy lebih gampang.

Yang bikin mudah itu jadi lebih handal untuk awareness terhadap diri sendiri.

T&: In your perspective, why is journaling an effective tool for runners when planning long-term race goals?

AB: Karena journaling bikin pelari nggak cuma ngejar hasil, tapi ngerti prosesnya.

Dengan nulis, mereka jadi bisa lihat pola: kapan badan capeknya beda, kapan mental drop, latihan apa yang bikin percaya diri naik.

Ini sejalan banget sama prinsip mindful progression: pelari belajar dengar tubuh dan pikirannya, bukan cuma ngikutin plan dan dorongan eksternal. Dan journaling itu kayak ‘replay button,’ bisa nge-review apa yang kejadian tanpa bias emosi hari itu. Buat long-term planning, ini A-must banget.

T&: What communication approach did you use biar ruangan tetap engaged, terutama saat masuk ke bagian yang data-heavy?

AB: Pertama, human insights first, data later. Bukan langsung ‘grafik dan angka,’ tapi mulai dari cerita akan situasi latihan hari itu. Olahraga lari sangat berdekatan dengan emosi, dan emosi sayangnya tidak terlalu akurat untuk dikuantifikasi.

Kedua, breakdown ke data sederhana. Data diaplikasikan ke konteks latihan mereka: ‘Kalau effort naik segini, artinya apa yang tubuh kamu bilang?’

Ketiga, interaksi dua arah. Sering tanya pendapat atau minta mereka recall pengalaman. Bikin ruangan ngerasa bagian dari materi, bukan pendengar pasif. Makanya kadang-kadang saya suka bikin projective atau meditative exercise.

T&: Penasaran, challenge terbesar runner dalam commit ke race plan jangka panjang itu apa? Discipline? Time management? Overestimating diri?

AB: Menurut saya kombinasi tiga hal, tapi urutannya beda tiap orang:

Konsistensi dan time management. Hampir semua client saya adalah recreational runners. Mereka busy professionals. Lari adalah hobi. Nah, realita nggak selalu memungkinkan untuk mengikuti jadwal latihan, dan banyak pelari belum terbiasa adjust progres dan jadwalnya. Biasanya saya bantu dengan sistem time management.

Over-estimating capability diri. Ini sering terjadi. Banyak yang ambisius, tapi nggak ngecek apakah tubuhnya siap atau goal-nya realistis. Goal-setting harus grounded sama kondisi sekarang.

Mental fatigue. Semakin banyak rencana perlarian, semakin gampang mental burn out kalau nggak ada jeda dan variasi. Ini dibahas jelas di modul mental training: motivasi itu fluktuatif, bukan konstan.

T&: Dari sisi delivery, apakah lebih banyak pake storytelling, data, atau kombinasi? Kenapa milih approach itu?

AB: Saya pakai kombinasi, tapi struktur utamanya storytelling supaya mereka kebayang konteksnya sebelum lihat angka.

Karena pas kita minta mereka journaling, yang paling penting justru rasa dan refleksi, bukan angka duluan. Data itu dipakai buat memperkuat insight, bukan jadi spotlight.

Jadi flow-nya: cerita → pengalaman mereka → data, dan journaling jadi jembatan antara semuanya.

T&: Apa perbedaan terbesar antara presentasi ke komunitas pelari dibanding presentasi ke audience umum yang nggak punya konteks sport endurance?

AB: Pelari yang datang ke workshop saya biasanya sudah datang dengan intensi khusus. Jadi begitu ngomong soal hal teknis, seperti pacing atau mental imagery, mereka langsung nge-link ke sensasi yang pernah mereka rasakan (pas lari).

Kalau ke audience umum, harus lebih banyak membangun konteks dan menjelaskan jargon lari dengan simple: apa itu fatigue, apa itu pacing, kenapa progres bertahap penting, dll.

T&: Kalau bisa refine one thing dari cara present, apa yang pengen banget kayanya di-tweak dan kenapa?

AB: Kayaknya saya butuh ngulik pacing presentasi (haha), bukan cuma pacing lari. Kadang karena excited ketemu komunitas lari, saya jadi terlalu semangat di awal dan banyak contoh yang saya lempar sekaligus.

Next time mau bikin jeda lebih jelas antar segmen, kasih ruang buat peserta mikir, nulis, dan nyambungin ke pengalaman mereka. Biar flow-nya lebih halus dan nggak buru-buru.


3 practical tips we can learn from Adystra’s experience.

1. Start with human insight before data.
Lari itu emosional, bukan cuma angka. Mulai dari cerita sensasi tubuh dulu baru masuk ke grafik atau pacing. Audiens jadi lebih engaged karena relate.

2. Build participation to enrich the sesh.
Ajak recall pengalaman, tanya pendapat, atau kasih reflective exercises. Runners connect better when they’re part of the material, bukan cuma konsumen slide.

3. Use journaling to bridge material & self-awareness.
Encourage pelari buat nyatet pola, effort, dan mental state. Ini bikin peserta lebih empati ke prosesnya, nggak target terus. Kalo gini, keputusan race planning jadi lebih grounded.

Previous
Previous

Presentasi Sebagai Career Coach di Media & TV? | Valencia Gabriella

Next
Next

OPPO Sustainability Report 2023