Presentasiin Arsip Digital Sejarah Visual Indonesia? | Prinvia Prichariel

Gimana caranya presentasiin sesuatu yang bahkan kamu sendiri masih belajar tentangnya, di depan audiens yang lebih berpengalaman?

Bagi Prinvia Prichariel, Founder of Artefak Kita, inilah tantangan nyata yang ia hadapi ketika naik panggung membawa narasi arsip visual Indonesia. Bukan cuma soal meyakinkan orang tentang pentingnya melestarikan sejarah visual, tapi juga soal caranya bikin orang yang awalnya nggak suka sejarah jadi bisa connect. Jadi, apa rasanya presentasiin Artefak Kita?


"Kunci presentasi gue biasanya adalah bercerita apa adanya, berdasarkan pengalaman pribadi. Karena gue sadar, gue masih belajar dan masih awam di banyak hal, jadi gue memilih untuk cerita dari lensa pengalaman dan keresahan gue sendiri."

Prinvia Prichariel

T& (T&DON): Gimana rasanya presentasiin Artefak Kita sebagai arsip visual? Berasa beban karena bahas sejarah yang serius, atau justru exciting?

PP (Prinvia Prichariel): Jujur, perasaan paling besarnya itu takut sih. Takut karena, pertama, gue ngerasa masih baru banget nyemplung ke ranah ini. Banyak banget hal yang belum gue tahu, sementara narasumber lain udah jauh lebih lama dan berpengalaman dibanding gue (wkwk). Gue juga yakin audiens yang hadir pasti banyak yang lebih knowledgeable.

Tapi di sisi lain, gue juga ngerasa sangat excited dan bersyukur banget Artefak Kita bisa dikasih kesempatan ini. Excited dan bersyukur bisa ngobrol dan berbagi bareng teman-teman yang sama-sama mengarsip dan peduli sama sejarah visual Indonesia. Dari situ justru jadi makin banyak belajar dan semangat buat ngerjain Artefak Kita ke depannya.

T&: Kalau audiens bukan dari latar desain atau sejarah, bagian mana dari presentasi yang biasanya kamu sesuaikan?

PP: Kunci presentasi gue biasanya adalah bercerita apa adanya, berdasarkan pengalaman pribadi. Karena gue sadar, gue masih belajar dan masih awam di banyak hal, jadi gue memilih untuk cerita dari lensa pengalaman dan keresahan gue sendiri.

Biasanya presentasi gue dimulai dari keresahan personal: bahwa dulu gue sebenarnya nggak tertarik sama sejarah, dan kayaknya ini juga relate sama banyak orang. Gue lalu cerita pengalaman belajar sejarah di sekolah lewat buku-buku sejarah dan PPKn yang, jujur, nggak terlalu works buat gue. Sampai akhirnya gue ketemu mata kuliah tentang desain dan budaya Indonesia di kuliah, dan di situ gue baru kebuka matanya: ternyata sejarah bisa dipelajari lewat visual.

Dari situ, gue selalu coba ngaitin cerita-cerita personal kayak gini ke konteks yang lebih luas, supaya tetap relevan dan bisa nyambung ke audiens dari latar belakang apapun, nggak cuma desain atau sejarah.

T&: Artefak atau visual apa yang biasanya kamu pilih untuk nge-hook audiens dari awal?

PP: Gue memilih kumpulan artefak yang memang nge-highlightperjuangan Indonesia. Kebetulan beberapa poster yang gue pakai berasal dari seri 'We Struggle with Posters' karya Poesat Tenaga Peloekis Indonesia (P.T.P.I.). Visualnya nunjukin gimana para seniman waktu itu menggunakan kuas sebagai alat perlawanan di periode 1945–1947.

Secara psikologis, itu penting banget buat audiens karena dari awal mereka langsung diajak masuk ke konteks emosionalnya — bahwa visual bukan cuma soal estetika, tapi juga bisa jadi medium perjuangan, perlawanan, dan suara. Dari situ, harapannya audiens jadi lebih kebuka dan siap menerima cerita lanjutan tentang artefak, sejarah, dan kenapa visual culture punya peran yang kuat.

T&: Dengan waktu presentasi yang terbatas, bagian cerita Artefak Kita apa yang selalu kamu prioritaskan?

PP: Bagian yang selalu gue pertahankan buat disampaikan adalah bahwa Artefak Kita itu sebuah living archive. Buat gue, penting banget audiens paham bahwa arsip itu bukan sesuatu yang selesai sekali lalu ditinggal. Artefak Kita akan terus tumbuh, bergerak, dan relevan, mengikuti konteks dan generasi yang mengaksesnya.

T&: Pernah nggak kamu lebih ngandelin baca situasi ruangan dibanding ngikutin slide?

PP: Iya, pernah tentunya. Biasanya kalau gue ngerasa audiens mulai kelihatan bosan, gue bakal coba:

Pertama: Mainin tempo atau intonasi.

Kedua: Masukin cerita personal, kadang the vulnerable one.

Soalnya, ketika kita jujur dan apa adanya, audiens justru jadi lebih terbuka dan nggak merasa terintimidasi, malah bisa lebih nyambung, hahaha. Jujur, ini emang nggak mudah sih. Gue sendiri juga masih terus belajar dan nyoba buat peka baca situasi.

T&: Kalau hari ini harus presentasiin Artefak Kita ke audiens yang benar-benar baru, satu hal apa yang paling ingin kamu sampaikan?

PP: Satu hal yang mau gue sampaikan adalah bahwa nggak apa-apa kok kalau lu pernah nggak suka sejarah, itu valid! Gue pun dulu juga begitu. Tapi yang penting cuma satu: mau terbuka aja. Siapa tahu, lewat visual-visual ini lu jadi tertarik belajar dan mulai sadar bahwa artefak visual seperti ini bukan sekadar gambar. Mereka itu bukti nyata dari adanya perjuangan, protes, proses pencarian identitas bangsa, dan tentunya harapan masyarakat pada saat itu. So preserving them is how we keep our past alive.

Dari keresahan personal yang diubah jadi pintu masuk cerita, Via membuktikan bahwa vulnerability bukan kelemahan di panggung presentasi — justru itulah yang bikin narasi jadi relevan. Lewat Artefak Kita, ia menunjukkan bahwa sejarah visual Indonesia bukan cuma milik para sejarawan. Ia milik siapa saja yang mau terbuka.

Artikel ini adalah bagian dari seri wawancara eksklusif T&DON dengan para profesional yang berhasil meng-overcome berbagai tantangan dalam presentasi penting dalam hidup mereka.

Previous
Previous

Presentasi Untuk Rebranding Indonesia Kaya? | Evan Wijaya

Next
Next

OPPO Sustainability Report 2023