Presentasiin Keresahan Sosial Lewat Karya Seni? | Kala
Kala adalah Storyteller & Content Creator yang percaya bahwa karya bisa jadi ruang aman buat cerita-cerita yang sering dibungkam. Berikut cerita Kala soal gimana dia mengangkat isu sosial lewat seni, dari film pendek pertamanya sampai proyek Puan Rumah yang bikin cerita perempuan akhirnya dapat panggung.
“Pas bikin karya, lebih banyak nggak taunya daripada taunya, cuma modal yakin dan gagasan yang bulat: ‘To uplift a complex experience that often gets silenced, especially in an ecosystem where power relations and silence can easily exist.’”
T& (T&DON): Awalnya, kamu tertarik mengangkat isu sosial lewat seni dari mana? Since isu serupa biasa dianggap terlalu “serius”.
K (Kala): It feels serious because it is significantly serious.
Aku pertama kali tergerak untuk menyuarakan isu-isu sosial melalui medium seni itu karena rasa gelisah, rasa marah, dan kesadaran akan privilege yang aku punya.
Ada banyak hal di sekitar kita yang sering dianggap biasa aja, padahal sebenarnya nggak baik-baik aja.
Banyak isu tentang perempuan, kesehatan mental, kelompok rentan, tubuh, ruang aman, dan cara kita memandang manusia lain yang menurutku masih perlu banget dibicarakan dengan lebih jujur dan manusiawi.
Aku percaya bahwa dari semua hal yang bisa dirampas oleh orang lain atau bahkan negara, baik itu tubuh atau suara kita, our beliefs, thoughts, and how we feel itu nggak akan bisa diambil. And to me that’s power, that’s privilege.
Aku cinta seni, suka menulis, dan, alhamdulillah, punya platform dengan audiens yang cukup dan terus berkembang. I think I owe it to myself and the world to make use of that.
T&: Pas menyampaikan isu yang berat lewat film, apa yang paling challenging buat kamu?
K: To listen, uplift, and empower, not trigger survivors’ trauma.
Menurutku, isu apa pun yang berkaitan dengan pengalaman traumatis, relasi kuasa, atau ketidakadilan sosial butuh penanganan yang gentle dan khusyuk.
That’s why research is so important to me. Talk to, discuss, observe. Walaupun aku merasa masih banyak sekali ruang untuk improve dalam segi pendalaman riset dan belajar mengenai isu-isu yang aku bawa.
But I always have the mindset, ‘Aku gak tau, I’ll do it anyways. I’ll learn as I go.’
Film Sisa Dini Hari adalah film pendek pertamaku sebagai penulis dan sutradara. Pertama kali aku ada di set film. Langsung sebagai penulis dan sutradara itu tadi.
Lebih banyak nggak taunya daripada taunya, cuma modal yakin dan gagasan yang bulat: ‘To uplift a complex experience that often gets silenced, especially in an ecosystem where power relations and silence can easily exist.’
Aside from that, aku juga merasa proses berkarya harus dibangun di lingkungan yang aman dan saling menghormati.
Buatku, ekosistem kerja yang sehat itu penting banget, apalagi kalau karya yang dibuat membawa isu yang sensitif.
And I believe that any genuine, honest, and solid root of a work can resonate with any audience, however their reaction would be.
T&: Kalau lagi nyiapin sesuatu untuk dipresentasikan, kamu biasanya mulai dari isu, cerita, atau keresahan pribadi?
K: I would start with:
‘What am I bothered with?’
‘What am I curious about?’
‘Isu-isu apa aja yang orang sekitar titipkan ke aku dengan berkeluh kesah kepadaku?’
‘What do I need to say?’
Buatku, prosesnya jarang langsung mulai dari “aku mau bikin karya apa?”
Biasanya justru mulai dari rasa terganggu, rasa penasaran, atau pertanyaan yang terus muncul di kepala.
Dari situ baru pelan-pelan ketemu bentuknya. Bisa jadi tulisan, film, movement, visual campaign, atau ruang ngobrol.
Aku rasa kalau akarnya jujur, bentuknya bisa berkembang dengan lebih natural.
T&: Apa hal yang paling sering disalahpahami orang tentang karya yang bersinggungan dengan seni, cerita, dan isu sosial?
K: That everything is absolute and the storytellers are the most knowledgeable. We’re not. We learn as we go.
Menurutku, orang sering melihat pembuat karya seolah-olah selalu paling tahu, paling paham, atau paling siap membicarakan isu yang mereka angkat.
Padahal dalam banyak proses, kami juga sedang belajar, mendengar, dan bertumbuh bersama isu itu.
I believe that I am more inspired from #BerkainBersama, #BraveToBeBare, Puan Rumah, Arise Arose, Pada Suatu Karya, and all of my other works, rather than I inspire them upon creating them.
I may not always have the same values or act as solid as my work, but they always stand still on their own, inspiring others and myself as they blossom.
T&: Waktu bikin Puan Rumah, apa yang berubah ketika cerita-cerita perempuan akhirnya diberi ruang?
K: Puan Rumah lahir dari rasa penasaran pada posisi perempuan di dalam rumah dan bagaimana peran mereka sering dilihat sebelah mata.
So essentially, creating room for women of many backgrounds of many houses, inclusive of the pekerja rumah tangga and extended family members, to me, shows that women have always been able to be and are actually leaders.
Ketika cerita perempuan di dalam rumah diberi ruang, kita jadi bisa melihat bahwa kepemimpinan itu nggak selalu harus keras, formal, atau terlihat besar dari luar.
When you observe a woman lead a household and see its gentle, bold, significant impact, you’ll start to wonder how different the world could be when women are trusted to lead in their own ways.
T&: Kalau ada satu hal yang kamu harap orang rasakan setelah melihat karya-karyamu, kira-kira apa?
K: Bahwa karya-karyaku adalah perlawanan dan penyembuhan lembut yang bertujuan untuk memulai dialog sehat.
Aku ingin karya-karya itu memantik kita semua untuk lebih sadar, lebih peka, dan pelan-pelan menciptakan aksi nyata demi kebaikan sesama manusia.
For me, art doesn’t always have to shout. Sometimes it can sit with you, stay in your mind, and make you question things you used to accept as normal.
If people feel moved to talk, reflect, and do something about the issues I bring, then I have done my job. Belajar, bertumbuh, berkarya, dan berbagi, lagi dan lagi.
3 practical tips we can learn from Kala’s experience.
1. Start from what genuinely bothers.
Cari tahu dulu hal apa yang benar-benar kamu peduliin, bukan cuma topik yang kelihatan penting.
2. Bawain topik berat dengan “pelan”.
Pilih mana yang perlu dijelasin langsung, mana yang cukup disiratkan, dan jaga supaya audiens tetap bisa ngikutin.
3. Buka obrolan, bukan maksa jawaban.
Presentasi yang kuat nggak selalu harus kasih kesimpulan besar. Kadang cukup bikin orang pulang sambil “mikir ulang”.