Presentasi di Harvard Law School? | Dominique Virgil

Ada ruang di mana pertanyaan paling tajam bukan ancaman, tapi undangan untuk berpikir lebih dalam.

Bagi Dominique Virgil, Legal Advisor di Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia, ruang itu adalah kelas-kelas di Harvard Law School. Di sana, presentasi bukan sekadar menyampaikan argumen — tapi diuji lewat tradisi Socratic Method, di mana setiap klaim ditantang lewat pertanyaan.

Jadi, gimana caranya tetap tenang dan terbuka saat argumen kita dibedah habis-habisan? Dan yang paling penting, apa rasanya presentasi di Harvard Law School?



“Selalu siap untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Dominique Virgil • Legal Advisor at Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia

T& (T&DON): Sebagai student di Harvard Law School, apa hal pertama yang kamu sadarin soal cara orang-orang di ruangan itu dengerin presentasi?

Orang-orang di Harvard sangat menghargai presenter dan tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.

DV (Dominique Virgil): Orang-orang sangat menghargai presenter. Mereka mendengarkan presenter, mengolah dan menganalisis hal-hal yang dipresentasikan.

Hal ini terlihat dari cara orang-orang menyampaikan pertanyaan kepada presenter setelahnya, maupun memberikan tanggapan.

Para siswa maupun dosen di kampus juga tidak pernah memotong presentasi atau pembicaraan orang lain, sehingga tidak banyak interupsi yang terjadi.

Momen Presentasi © Dominique Virgil

T& (T&DON): Seberapa penting struktur/alur presentasi dan gimana caranya ngatur pacing presentasi di ruang yang diskusinya dinamis?

Hindari kalimat yang rumit, dan pakai signposting supaya audiens gampang ngikutin alur.

DV (Dominique Virgil): Struktur presentasi sangat penting karena tidak semua orang memiliki attention span yang sama. Apabila isu yang dipresentasikan cukup rumit, maka perlu memposisikan diri sebagai pendengar.

Pertama, hindari menggunakan kalimat yang terlalu rumit. Kata-kata yang flowery/berbunga-bunga, maupun tidak straightforward. Penggunaan kata-kata yang lebih sederhana akan membuat penyampaian pesan/ide utama dari presentasi tersebut lebih mudah diterima oleh para pendengar.

Kedua, tips yang sangat helpful: signposting. Setelah pembukaan, saya biasanya menyampaikan kepada pendengar apa saja hal yang akan saya presentasikan. Signposting dapat memandu para pendengar untuk mengikuti alur presentasi, sekaligus mengatur ekspektasi para pendengar mengenai konten presentasi. Misal: “Hari ini saya akan mendiskusikan tiga hal.”

Suasana Kelas © Dominique Virgil

T& (T&DON): Pernah dapet pertanyaan yang justru lebih berat dari presentasinya sendiri?

Pertanyaan tersulit justru melatih untuk melihat blind spot dan memperkuat argumen.

DV (Dominique Virgil): Di Harvard, ada tradisi Socratic Method. Para pengajar dan mahasiswa saling menantang argumen lewat pertanyaan. Jadi audiens terbiasa mengulik sampai ke akar.

Mahasiswa datang dari latar belakang berbeda (praktisi, akademisi, diplomat, aktivis). Pertanyaan mereka sering membawa sudut pandang yang tidak kita antisipasi. Presentasi dianggap sebagai ‘pemantik,’ bukan akhir.

Pertanyaan dari audiens tersebut tidak pernah saya anggap sebagai suatu serangan, melainkan upaya untuk mendiskusikan suatu isu dan menggalinya lebih dalam. Apabila saya tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa lain dan para pengajar juga membantu saya.

Sebagai presenter, pertanyaan yang lebih sulit tersebut melatih saya untuk melihat blind spot, memperkuat argumen, dan melatih ketahanan mental dalam forum publik.

Hal ini sangat helpful bagi saya yang merupakan seorang diplomat. Saya dilatih untuk siap untuk menghadapi pertanyaan yang tidak selalu ramah, tapi tetap menjawab dengan nada profesional dan terbuka.

T& (T&DON): Di tengah audiens yang sangat kritis, apa bentuk rasa nervous yang paling kerasa buat kamu secara personal?

Rasa nervous itu bukan ketakutan, tapi reminder bahwa diskusi ini penting dan menantang.

DV (Dominique Virgil): Saya belajar untuk mengubah rasa nervous menjadi energi positif, bahwa audiens benar-benar engaged dengan topik yang saya bawa.

Jadi, rasa nervous itu bukan sekadar ketakutan, tapi semacam reminder bahwa diskusi ini penting dan menantang.

T& (T&DON): Gimana cara kamu ngehindar dari jebakan terlalu defensif pas mungkin argumen kamu ditantang?

Defensif biasanya muncul dari rasa takut kehilangan muka — kuncinya, alihkan fokus ke rasa ingin tahu.

DV (Dominique Virgil): Di Harvard Law School, saya tidak pernah merasakan adanya kritik terhadap identitas pribadi saya, sehingga saya tidak akan beralih ke mode defensif dalam diskusi.

Para dosen dan mahasiswa sudah terbiasa untuk berbeda pandangan, dan hal tersebut merupakan kebiasaan yang sehat. Seluruh siswa dan pengajar memiliki mindset eksploratif, sehingga debat tidak digunakan untuk membuktikan siapa yang benar, melainkan eksplorasi perspektif orang-orang yang berbeda-beda.

Daripada menantang argumentasi, banyak mahasiswa dan staf pengajar yang selalu memulai dengan pertanyaan, ‘Mengapa kamu berpikir seperti itu?’.

Suasana Komunitas © Dominique Virgil

Perlu ada jeda sebelum menjawab pertanyaan maupun respon dari orang lainnya. Pun perlu menanggapi argumentasi, pertanyaan, maupun respon orang lain secara obyektif.

Apabila ada elemen-elemen yang valid atau logis, maka sebagai presenter, kita harus mengakui hal tersebut. Hal ini akan membuat atmosfer diskusi lebih nyaman.

Defensif biasanya muncul dari rasa takut kehilangan muka. Kalau kita mengalihkan fokus ke rasa ingin tahu dan keinginan memahami pandangan yang berbeda, debat akan memperkaya perspektif kita.

T& (T&DON): Kalau pengalaman ini bisa diringkas jadi satu prinsip, apa unwritten rules yang paling penting untuk dipahamin?

Bukan sekadar menyampaikan argumen, tapi menunjukkan bahwa kita bisa berdialog dengan pandangan yang berbeda.

DV (Dominique Virgil): Selalu siap untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara karena yang benar-benar diuji adalah kemampuan kita merespons pertanyaan kritis dengan terbuka, tanpa defensif, dan tetap menjaga alur diskusi.

Jadi bukan sekadar menyampaikan argumen, tapi menunjukkan bahwa kita bisa berdialog dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda.

Saya juga belajar untuk selalu melatih argumentasi saya dengan menganalisis suatu isu dari berbagai angle.

Saya mempertanyakan line of thoughts saya sendiri sebelum presentasi. Hal ini juga cukup helpful dalam melakukan diskusi. Saya selalu melakukan presentasi dan menyampaikan jawaban atas pertanyaan dengan menggunakan metode signposting, sehingga audiens akan lebih mudah dalam mengikuti alur presentasi saya dan diskusi akan lebih terstruktur.


3 practical tips we can learn from Dominique’s experiences.

1. Treat questions as exploration, not attack.
Pertanyaan yang berasa tajam bukan serangan personal. Liat itu sebagai eksplorasi isu, bukan nguji pride/ego.

2. Pake bahasa yang mudah dipahamin.
Avoid kalimat “berbunga-bunga”. Pake bahasa yang simple dan straightforward. Biarkan “kerennya” dateng dari pesan kita, bukan cuman bahasanya.

3. Use signposting for clarity.
Mention dari awal presentasi/jawaban, misal: “Saya akan membahas tiga hal.” Biar audiens kebayang bakal dengerin apa dan udah sampe mana.

Previous
Previous

Presentasi di Festival Ekonomi di Papua? | Rafif Adhikara

Next
Next

Presentasi Sebagai Fasilitator di Depan Berbagai Audiens? | Elsa Christine