Presentasi di Festival Ekonomi di Papua? | Rafif Adhikara

Ada panggung di mana audiensnya masih dua puluhan tapi udah curi start membangun bisnis di tengah dunia yang serba digital.

Bagi Rafif Adhikara, CEO & Founder of Photomatics, panggung itu adalah Festival Ekonomi di Papua. Di sana, istilah-istilah teknikal harus diterjemahkan jadi bahasa yang relate — lewat visual, analogi, dan tokoh-tokoh yang mereka kenal sehari-hari.

Jadi, gimana caranya bikin materi kompleks kerasa dekat buat audiens dari latar budaya yang berbeda? Dan yang paling penting, apa rasanya presentasi di Festival Ekonomi di Papua?



“Gue ajak audiens untuk berkaca pada tokoh-tokoh yang sukses di sekitar mereka.”

Rafif Adhikara • CEO & Founder of Photomatics

T& (T&DON): Apa kesan pertama pas sampe di Papua dan tau bakal berbicara di Festival Ekonomi untuk anak muda di sana?

Meski ada perbedaan bahasa, atmosfernya hangat dan penuh koneksi baru.

RA (Rafif Adhikara): Pertama, gue ngerasa challenged karena secara bahasa sehari-hari dan pemahaman ada perbedaan, sehingga gue perlu menyesuaikan dan mempelajari sedikit dari bahasa mereka.

Kalau secara atmosfer, rasanya hangat sekali karena bisa ketemu temen-temen baru di Papua.

Di akhir acara juga gue dapet kesempatan joget bareng sama mereka, hahaha.

T&: Pas nyusun deck untuk audiens di Papua, kamu lebih mengandalkan visual, teks, atau contoh konkret?

Prioritasnya: gambar dulu, baru perumpamaan, baru sedikit teks buat konteks.

RA: Prioritasnya: pertama gambar, kedua perumpamaan yang relevan buat istilah asing, ketiga sedikit text buat konteks.

Untuk porsi gambar gue buat lebih dominan di slide, supaya mereka langsung nangkep konteks yang mau gue sampein.

Gue juga lebih banyak ambil contoh perumpamaan yang kiranya bisa dikaitkan dengan istilah yang kurang awam. Selain itu, gue imbangin dengan sedikit text, supaya dapet konteksnya.

T&: Gimana cara menyederhanakan istilah teknikal biar tetap relatable tanpa kedengeran menggurui?

Ajak audiens berkaca pada tokoh sukses yang mereka kenal, lalu kaitkan ke materi.

RA: Jadi gue ajak audiens untuk berkaca pada tokoh-tokoh yang sukses disekitar mereka. Salah satu contohnya: Pesepak bola asal Papua, Boaz Solossa, striker terbaik di Timnas yang sukses di bidangnya.

Dari sini gue coba kaitkan ke materi yang gue sampaikan, dengan cara penyampaian storytelling dan banyak analogi.

Gue ngegabungin tiga aspek ini supaya bahasa gue mudah diterima semua kalangan.

Foto Bersama Peserta © Rafif Adhikara

T&: Apa yang kamu lakukan buat memastikan contoh yang dipake bisa relevan sama audiens Papua?

Riset bahasa, diskusi lintas budaya dengan tim, dan konsisten pake Bahasa Indonesia.

RA: Pertama, riset bahasa/istilah yang perlu disesuaikan.

Kedua, reflecting ke komunikasi sama tim Photomatics yang juga dari beragam daerah. Ada orang Sunda, Padang, dan Jawa.

Ketiga, full pake Bahasa Indonesia. Nggak di-mix sama English.

T&: Ada nggak momen yang sengaja “didesain” biar audiens benar-benar ingat pesannya, mungkin ada activation yang sengaja dibuat atau ada cara lain?

Ia kasih task ke audiens setelah sesi, biar “Growth Mindset”-nya kebawa ke kehidupan mereka.

RA: Aktivasi yang gue buat cukup simple. Gue memberi mereka task setelah keluar dari ruangan tersebut.

Gue harap mereka udah tau “Growth Mindset” yang harus dimiliki, dengan harapan ilmu gue bisa diterapkan untuk kehidupan mereka.

Momen Presentasi © Rafif Adhikara

T&: Apa insight yang dibawa pulang setelah sesi? Dan kalau bisa diulang, hal apa yang mau kamu ubah dari presentasinya?

Semangat anak-anak muda Papua yang udah curi start berbisnis di usia 20-an bikin salut.

RA: Gue salut banget, temen-temen di Papua ini gokil, sih. Semangatnya keren banget. Di usia awal 20-an, mereka udah curi start untuk berbisnis di era yang sudah serba digital ini.

Selain itu gue pengen punya waktu lebih buat explore budaya disana, jadi bisa lebih relate sama konteks audiens.

Kalau gue ingin mengulang momen tersebut, gue akan memberikan materi yang lebih fokus ke teknikal dan tentunya insight yang lebih applicable untuk bisnis mereka.


3 practical tips we can learn from Dhika’s experience.

1. Utilize visual language.
Visual bantu audiens langsung nangkep konteks sebelum masuk ke penjelasan.

2. Use analogies they already know.
Istilah kompleks jadi lebih mudah dipahami pas dikaitin sama tokoh atau pengalaman yang familiar di audiens.

3. Adapt the language to the room.
Do the research dan pake bahasa yang familiar buat audiens, bukan istilah yang kerasa jauh dari keseharian mereka.

Previous
Previous

Presentasi Bahas Edukasi Sensitif ke Anak Usia Dini? | Amelia Margaretha

Next
Next

Presentasi di Harvard Law School? | Dominique Virgil