Presentasi Sejarah Kawasan Glodok Lewat Jalan Kaki? | Mudita Nanda

Buat Mudita Nanda, cerita yang baik bukan cuma bikin orang paham — tapi bikin mereka ikut merasakan.

Bagi Mudita Nanda, Project Manager at MET Glodok, kuncinya adalah menggerakkan pendengar untuk merasakan sesuatu dan bersimpati, lebih dari sekadar mendapatkan pemahaman atau pengetahuan baru.

Jadi, apa rasanya presentasi sejarah kawasan Glodok lewat jalan kaki?


"Bisa bercerita dengan baik dan tepat itu satu hal. Tapi mampu menggerakkan mereka yang mendengarkan untuk merasakan sesuatu dan bersimpati, lebih dari sekadar mendapatkan pemahaman atau pengetahuan baru, that's the most important thing."

Mudita Nanda

T& (T&DON): Buat yang baru pertama kali dengar, MET Glodok itu apa sih?

MN (Mudita Nanda): Di hari kerja, kami banyak mengeksplorasi sejarah kawasan Glodok yang erat dengan budaya Tionghoa Indonesia.

Lalu di akhir pekan, cerita dan pengetahuan itu kami bagikan ke tamu kafe, peserta walking tour, dan program-program lainnya. MET Glodok adalah sebuah independent cultural space yang dijalankan oleh Studio Metta Setiandi.

Lewat walking tour ini, peserta diajak untuk melihat dan mengalami seluk-beluk Glodok dari perspektif warga lokal. Bukan cuma melihat bangunan atau tempatnya, tapi juga memahami sejarah pembentukannya yang panjang, berlapis, dan berliku.

T&: Apa yang paling sering disalahpahami orang tentang Glodok sebelum ikut tur?

MN: Banyak yang masih menganggap Glodok sebagai sekadar pecinan tua, atau melihat kawasan ini sebagai tempat wisata baru yang terkesan 'eksotis'.

Menurutku, semua orang berhak-berhak aja sih punya penilaian dan pemaknaan masing-masing terhadap Glodok. Yang disayangkan adalah kalau pendekatan itu berhenti di lapisan terluar aja, karena Glodok bukan cuma tempat untuk dilihat.

Ada banyak sekali lapisan sejarah, kehidupan sehari-hari, relasi antarwarga, dan cerita-cerita kecil yang baru kelihatan kalau kita mau meluangkan waktu untuk mengenal dan memahami lebih dalam hehe.

T&: Seberapa penting storytelling supaya peserta betah ngikutin tur sampai akhir?

MN: Menurutku, storytelling penting banget karena tur bukan cuma soal menyampaikan informasi. Aku selalu berusaha mengajak peserta untuk berimajinasi dan mencari paralel antara kehidupan di masa lampau dengan hari ini.

Bisa bercerita dengan baik dan tepat itu satu hal. Tapi mampu menggerakkan mereka yang mendengarkan untuk merasakan sesuatu dan bersimpati, lebih dari sekadar mendapatkan pemahaman atau pengetahuan baru, that's the most important thing.

Misalnya, "Coba deh bayangin, gimana ya rasanya hidup di masa ketika belum ada kendaraan bermotor untuk kirim-kirim barang?" Atau, "Kebayang nggak, kalau orang-orang Tionghoa Indonesia nggak pernah dibatasi untuk berbahasa dan merayakan kebudayaan mereka di era Orde Baru, mungkin anak-anak sekarang lebih banyak yang fasih berbahasa Mandarin kali ya haha."

T&: Gimana caramu membaca audiens dan menyesuaikan cara bercerita?

MN: Aku cari tahu dulu: latar belakang pendidikan atau profesional mereka, apakah mereka ikut tur untuk jalan-jalan kasual, atau ada kepentingan khusus. Aku selalu melakukan background check beberapa hari sebelum tur dimulai, seperti sedang meriset sesuatu yang spesifik.

Misalnya, ketika membawa turis dari US, aku akan bandingkan luas kota Batavia dengan luas Central Park, 1.5 km² banding 3.41 km², for your information haha.

Informasi itu nggak cuma memengaruhi cara aku bercerita, tapi juga apa yang akhirnya aku ceritakan. Jadi buatku, membaca audiens itu bukan cuma soal gaya ngomong, tapi juga soal memilih konteks, perbandingan, dan pintu masuk cerita yang paling dekat dengan dunia mereka.

T&: Dari banyaknya cerita Glodok, gimana caramu memilih mana yang diceritakan?

MN: Mulai dari cerita tentang perdagangan, fasad-fasad bangunan dan gaya arsitektur, sampai budaya yang turun-temurun di meja makan. Nggak ada strategi khusus yang terlalu saklek untuk kurasinya, sih. Jujur ini bagian tersulit, karena aku rasa semua layak untuk diceritakan haha.

Tapi di antara semuanya, yang menurutku paling spesial adalah cerita dari para tetangga. Tentang mereka yang menghidupi gang-gang di Glodok dengan cara masing-masing, dan tentang bagaimana mereka bertahan hidup dari masa ke masa.

Kawasan ini nggak mungkin bertahan sampai sekarang, dan nggak mungkin semenarik itu untuk diceritakan, kalau bukan karena mereka.

T&: Pelajaran komunikasi apa dari MET Glodok yang kepakai di kehidupan sehari-hari?

MN: Adaptasi dan menjadi fleksibel dalam berinteraksi. Jadi, kita nggak bisa pakai satu cara komunikasi untuk semua orang, we have to meet them at their level and adjust how we communicate accordingly.

Buatku, itu kepakai banget di kehidupan sehari-hari. Kadang komunikasi yang baik bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tapi seberapa mau kita menyesuaikan diri dengan orang yang ada di depan kita.

T&: Jejak seperti apa yang kamu harap peserta bawa pulang setelah tur?

MN: Aku pengen mereka pulang dengan rasa ingin tahu yang lebih besar haha, dan juga kemampuan untuk mengamati sesuatu yang mungkin sehari-hari terasa biasa aja, tapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Sering kali kita datang ke sebuah tempat dan menghabiskan waktu hanya untuk melihat apa yang ada di permukaan. Tapi setelah interaksi dan experience seperti tur, semoga mereka bisa lebih peka memperhatikan detail-detail yang lebih kecil.

Aku juga berharap mereka membawa pulang kesadaran bahwa setiap pelosok kota punya lapisan cerita yang nggak selalu kelihatan. Untuk memahami sebuah tempat, kita perlu meluangkan waktu untuk berjalan lebih pelan dan mendengar lebih banyak, nggak perlu buru-buru ambil kesimpulan.

Kalau setelah tur mereka jadi bisa memaknai Glodok, atau bahkan lingkungan tempat mereka tinggal, dengan cara yang berbeda, buat aku itu mungkin jejak yang paling berharga.

3 practical tips we can learn from Mudita's experience:

1. Pake contoh yang bisa dibayangin.
Kalau cerita terasa jauh, bantu mereka masuk lewat analogi yang dekat dan gampang kebaca.

2. Invite them to immerse.
Fakta bikin orang tahu. Tapi cerita, contoh, dan pertanyaan bikin mereka ikut ngerasain.

3. Slowing down to see more.
Presentasi yang kuat justru bisa dibangun dari detail kecil yang bikin orang ngeliat sesuatu dengan cara baru.

Previous
Previous

Presentasi di Meta APAC Beauty Summit 2026? | Nadia Edgina Zain

Next
Next

Presentasi untuk Anak-Anak di Daerah Pelosok? | Dominique Ivonne