Presentasi untuk Anak-Anak di Daerah Pelosok? | Dominique Ivonne
Buat Dominique Ivonne, mengajar bukan cuma soal kurikulum — tapi soal membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak.
Bagi Dominique Ivonne, Humanitarian & Educator, kuncinya adalah melihat mengajar sebagai emotional architecture, bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru ke murid.
Jadi, apa rasanya presentasi untuk anak-anak di daerah pelosok?
"Teaching is not just academic work, it is emotional architecture. Siapa yang hari ini lebih diam dari biasanya. Siapa yang butuh lebih banyak rasa percaya diri. Kita sedang membangun rasa aman, kepercayaan diri, karakter, dan cara anak melihat dirinya sendiri."
Dominique Ivonne
T& (T&DON): Momen apa yang paling mengubah cara kamu memandang belajar dan mengajar?
DI (Dominique Ivonne): Ketika saya melihat anak-anak di pulau terpencil tetap datang ke sekolah dengan semangat luar biasa, walaupun fasilitas mereka sangat terbatas.
Ada yang tidak punya sepatu, alat tulis, buku, bahkan ruang belajar yang layak. Tapi rasa ingin tahu mereka tetap menyala.
Dari situ saya sadar, belajar bukan hanya soal kurikulum, nilai, atau seberapa cepat anak bisa membaca dan berhitung. Belajar adalah tentang memberi anak kesempatan untuk merasa mampu, terlihat, dan dipercaya.
Mengajar juga bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, tapi menyalakan sesuatu di dalam diri anak. That moment really humbled me. It reminded me that education is not a privilege to be polished, it is a right to be protected.
T&: Menurut kamu, apa bedanya explaining dan making people understand?
DI: Explaining bisa terdengar pintar, rapi, dan penuh data. Tapi, making people understand membutuhkan empati.
Explaining adalah ketika kita menyampaikan informasi. Tapi making people understand adalah ketika informasi itu benar-benar sampai, tinggal, dan mengubah cara orang melihat sesuatu.
Kita harus membaca audiens. Tahu kapan harus memperlambat, kapan memberi contoh, kapan pakai cerita, dan kapan diam sebentar supaya pesan bisa benar-benar masuk.
Sebagai pendidik, saya belajar bahwa tugas kita bukan terlihat paling tahu di ruangan, tapi memastikan orang lain bisa ikut memahami. Because communication is not about how much you say, but how much actually lands.
T&: Apa satu kebiasaan komunikasi yang sengaja kamu unlearn sejak jadi guru?
DI: The need to always have the answer immediately.
Sebagai guru, dulu saya merasa harus bisa merespons cepat dan tahu semua jawaban. Tapi, anak-anak mengajarkan saya bahwa mengatakan, "I'm not sure, let's find out together," bukan bentuk kelemahan.
Justru itu salah satu hal paling jujur dan powerful yang bisa kita contohkan. It teaches curiosity, humility, and lifelong learning. Dan menurut saya, itu jauh lebih berharga daripada pura-pura tahu segalanya.
T&: Apa bagian tersulit dari mengajar yang jarang orang lihat?
DI: Carrying so many invisible things at once.
Orang sering melihat mengajar dari lesson plan, worksheet, aktivitas kelas, atau momen-momen lucu bersama anak-anak. Tapi di balik itu, guru terus membaca banyak hal yang tidak selalu kelihatan.
Siapa yang hari ini lebih diam dari biasanya. Siapa yang butuh lebih banyak rasa percaya diri. Siapa yang sedang cemas. Siapa yang butuh ditantang. Siapa yang butuh didekati dengan lebih lembut.
Teaching is not just academic work, it is emotional architecture. Kita sedang membangun rasa aman, kepercayaan diri, karakter, dan cara anak melihat dirinya sendiri. Dan itu membutuhkan energi yang besar. The hardest part is that you cannot be mechanical. You have to stay human, even on days when you are tired.
T&: Kalau hari ini cuma boleh ngajarin satu pelajaran ke semua orang, apa itu?
DI: Saya ingin mengajarkan bahwa setiap orang punya kapasitas untuk memberi dampak, sekecil apa pun bentuknya.
Banyak orang menunggu sampai mereka punya banyak uang, banyak waktu, atau posisi besar untuk mulai membantu. Padahal perubahan sering dimulai dari hal kecil. Satu buku. Satu sepatu. Satu kelas. Satu percakapan yang membuat seseorang merasa berharga.
Saya ingin semua orang belajar bahwa purpose tidak harus selalu megah. Sometimes it is simply noticing a need and choosing not to look away. Kalau setiap orang melakukan bagian kecilnya dengan tulus, dampaknya bisa menjadi sesuatu yang sangat besar.
T&: Sepuluh tahun lagi, apa yang paling akan kamu syukuri dari perjalanan ini?
DI: Yang paling saya syukuri adalah keberanian untuk mulai, bahkan ketika semuanya belum sempurna.
Saya akan bersyukur karena tidak menunggu sampai punya sistem paling rapi, dana paling besar, atau kondisi paling ideal untuk bergerak. Saya mulai dengan apa yang ada, dengan hati yang benar, dan dengan keyakinan bahwa anak-anak layak mendapatkan lebih.
Bukan hanya pencapaian besar, jumlah sekolah, atau berapa banyak anak yang terbantu. Tentu itu penting.
Saya juga sangat bersyukur melihat anak-anak yang dulu kami bantu tumbuh menjadi manusia yang percaya diri, punya pilihan hidup lebih luas, dan mungkin suatu hari ikut membantu orang lain. That would be the most beautiful full-circle moment.
3 practical tips we can learn from Dominique's experience:
1. Jangan cuma fokus menjelaskan.
Ketika mengajar, tujuannya bukan lagi kelihatan paling paham, tapi bikin orang lain benar-benar mengerti.
2. Baca audiens dan sesuaikan diri kita.
Peka sama ruangan dan tau kapan harus pelan, kasih contoh, atau diam sebentar supaya pesannya benar-benar masuk.
3. Nggak harus selalu punya jawaban.
Kadang bilang "yuk cari tahu bareng" justru bikin komunikasi terasa lebih jujur dan lebih kena daripada selalu pura-pura tau segalanya.