Presentasi di Meta APAC Beauty Summit 2026? | Nadia Edgina Zain
Berdiri di depan ruangan penuh expert industri beauty se-APAC bukan hal yang mudah — apalagi kalau topiknya soal teknologi dan data yang kompleks.
Bagi Nadia Edgina Zain, Head of Industry at Meta, tantangan itu bukan soal seberapa dalam pengetahuan teknis yang dibagikan, melainkan bagaimana menerjemahkan kompleksitas teknologi menjadi insight yang actionable untuk bisnis.
Jadi, apa rasanya presentasi di Meta APAC Beauty Summit 2026?
"To lead a room of experts, it's not about performing. It's about understanding what's currently top of mind, what's keeping them up at night, dan menjembatani itu dengan unique insight yang hanya kamu punya."
Nadia Edgina Zain
T& (T&DON): Waktu pertama naik panggung di Meta APAC Beauty Summit, apa hal pertama yang terlintas?
NE (Nadia Edgina Zain): Semua orang di ruangan ini adalah expert professional di bidangnya. Mereka paham betul soal beauty, mulai dari brand development, sales, product research, CRM, marketing, sampai creators dengan cult following masing-masing. They're all experts in this field. Jadi fokus pertama saya bukan, "gimana caranya terlihat impressive?" Tapi: "insight apa yang mereka butuhkan? Perspective apa yang perlu mereka dengar? What do I know that they will find valuable?" Peran saya adalah menerjemahkan kompleksitas teknologi menjadi perspective yang actionable, untuk bantu industri stay ahead dan leverage technology for beauty. Dan disaat ada perasaan ragu atau nervous di ruangan yang penuh dengan orang-orang industri, saya mengingatkan diri lagi bahwa: mereka hadir karena ingin memahami bagaimana technology, platform, social media, algorithm, dan AI sedang mengubah fundamental nature bisnis mereka. Dan disitu expertise saya yang bisa membantu mereka menavigasi perkembangan technology dan social media. Dapetin attention itu satu hal, tapi jagain attention-nya itu hal lain. Dan itu nggak akan terjadi kalau dari awal saya nggak clear soal apa yang hanya saya bisa kasih ke ruangan ini. To lead a room of experts, it's not about performing. It's about understanding: what's currently top of mind, what's keeping them up at night, dan menjembatani itu dengan unique insight yang hanya kamu punya.
T&: Gimana cara kamu mengemas topik AI dan data supaya tetap engaging untuk audiens kreatif dan business?
NE: Ha! This is an important question. Ini bukan challenge dari segi materi, karena tech dan AI itu bidang saya. Saya bisa ngomong soal topik ini berjam-jam. Tapi bisa jadi orang udah nggak ngikutin, hahaha. So, it boils down to designing cara yang engaging dan bisa dipahami esensinya: "Why this matters for my business, and what do I do now?" Mereka nggak butuh tahu terlalu dalam cara kerja algorithm. Mereka butuh tahu apa artinya buat bisnis mereka dan apa yang harus mereka lakukan sekarang. Jadi pendekatannya harus multimodal. Nggak cuma slide, tapi juga hasil research untuk set the context, video case study dari real business untuk menunjukkan strategi yang diterapkan, dan panel dari expert industri who are their peers. Untuk audiens business executives, mengilustrasikan implikasi terhadap strategi bisnis itu jauh lebih penting daripada mengupas sisi technical. Perubahan algorithm dan AI sekilas terdengar abstrak, tapi urgensinya menjadi riil saat digambarkan dampak finansialnya ke bisnis tersebut, kalau mereka tidak melakukan transformasi digital.
T&: Apa challenge terbesar saat membangun koneksi dengan audiens lintas negara?
NE: Looking back, di luar bahasa penyampaian, prinsip presentasi di Indonesia dan sesi lintas negara tuh sama sih. Agar materi efektif, kita harus get attention dan build connection. Dan untuk itu, you have to know your audience. Tapi untuk internasional audiens, kita perlu additional homework: pahami market mereka dan berikan contoh yang relevan. Misalnya, festive moment. Di Indonesia, it's Ramadan. Di Vietnam, it's Tet. Jadi saya harus tahu tema apa yang berlaku untuk semua APAC market, dan di mana ada cultural nuance yang berbeda. Sehingga communication-nya bisa well-received for all. Cukup universal untuk connect, tapi juga cukup spesifik untuk meng-highlight market nuance audience yang hadir, sampai mereka merasa, "ini relevan buat saya."
T&: Pas presentasi di audiens besar, kamu lebih mikirin apa yang ingin disampaikan atau apa yang ingin mereka lakukan setelahnya?
NE: Untuk saya, presentasi business pasti ada goal-nya. Apakah menjual sebuah ide, produk, atau mengubah behavior. Begin with the end in mind. Sebelum saya pikirin content-nya apa, saya lebih fokus ke pertanyaan: "If I have their attention for the next 60 minutes, what do I want them to do after listening to me?" Success for me adalah saat audiens bisa menerima perspektif baru, lalu pulang dengan insight tersebut dan menerapkannya di strategi mereka. Itu yang mengubah cara saya mendesain presentasi. Yang saya sampaikan bukan cuma informatif, tapi juga actionable. Mendapatkan waktu dan perhatian mereka itu privilege. Semua orang sibuk. Jadi tanggung jawab kita adalah memastikan waktu itu berbuah sesuatu yang bisa mereka pakai.
T&: Apa satu insight dari Meta APAC Beauty Summit yang akan selalu kamu bawa ke panggung berikutnya?
NE: Speaking and leading a room of experts can be intimidating. Tapi, insight yang selalu saya bawa ke setiap panggung is that this is not about me. It's about them. Saya present di panggung karena mau membawa insight untuk meng-empower businesses. Hal yang saya lakukan untuk merasa nyaman dan ready adalah: datang early di venue to observe and mingle. Bukan buat rehearse, tapi buat mendengar dan memahami state-of-mind dari audiens yang hadir. Spend 15 minutes mingling dengan audiens. Ngobrol, kenalan, dan dengarkan apa yang sedang mereka hadapi. Di Beauty Summit kemarin, saya bisa dengar langsung bahwa beauty brands sedang concern dengan cost of ingredients dan supply chain issues. Agencies are revisiting strategy untuk digital-first brands. Creators juga mencari cara supaya bisa lebih engaged personally dengan followers mereka. Semua itu jadi bahan. Saya jadi tahu exactly apa yang paling relevan untuk mereka hari itu. Kebanyakan orang mikir panggung itu tempat untuk prove yourself. Buat saya, panggung itu tempat untuk deliver value. And delivering value starts before you even step on stage.
3 practical tips we can learn from Nadia's experience:
1. Deliver value, instead of impress.
Kalau audiensnya expert, fokusnya udah bukan lagi kita keliatan paling pintar. Temuin insight apa yang mereka butuh dengar dari kita.
2. Focus on the actionable.
Audiens bisnis nggak selalu butuh tahu detail teknisnya. Mereka butuh paham artinya apa buat bisnis mereka dan harus ngapain setelah ini.
3. Catch the room before leading the room.
Dateng lebih awal, ngobrol, dan dengarkan concern mereka. Kadang bahan paling relevan justru muncul sebelum kita naik panggung.