Presentasi di Forum Farmasi Internasional? | Eza Riyeni

Eza Riyeni adalah Apoteker & Pharmacreator yang percaya bahwa obat boleh punya formula yang sama, tapi manusia yang kita ajak bicara selalu punya cerita yang beda. Berikut cerita Eza soal gimana dia meracik presentasi ilmiah biar terasa manusiawi saat tampil di forum farmasi internasional IPSF, dari bahasa akademik yang kaku sampai desain pengalaman audiens yang lebih personal.



“Obat boleh punya formula yang sama, tapi manusia yang kita ajak bicara selalu punya cerita yang beda.”

T& (T&DON): Waktu pertama tahu bakal presentasi di forum internasional, apa yang paling bikin deg-degan?

ER (Eza Riyeni): Jujur, skalanya langsung global dan ini panggung offline full English pertamaku. + ini bukan sesi panel diskusi, tapi solo session 1,5 jam. Sebelumnya aku lebih sering aman di balik layar laptop waktu pandemi.

Awalnya aku pikir yang paling bikin deg-degan itu bahasa Inggris. Tapi pas hari H, aku sadar yang lebih menantang justru: “Materiku ini terlalu liar nggak, ya, buat anak farmasi tingkat dunia?”

Di saat pembicara lain bawa grafik jurnal medis yang kaku, aku justru pakai creative communication dan visual yang agak beda buat dunia farmasi. Yang juga challenging adalah bikin orang dari berbagai negara nangkep pesan yang sama. Di situ aku sadar, komunikasi bukan cuma soal ngomong, tapi soal menerjemahkan isi kepala kita.

T&: Sebagai sesama Gen Z, apa yang masih outdated dari cara dunia kesehatan ngomong ke anak muda?

ER: Menurutku, dunia kesehatan masih terlalu kaku dan sering banget gatekeeping ilmu lewat istilah teknis akademik. Padahal Gen Z itu literate dan curious, tapi karena semua info serba cepat dan minim filter, mereka juga gampang kemakan misinformasi kesehatan di medsos.

Di sini letak outdated-nya. Nakes nggak bisa lagi khotbah dari atas dengan ego akademik. Literasi kesehatan harus dibumikan pakai bahasa manusia. Tugas apoteker sekarang bukan cuma jelasin obat, tapi jadi kompas supaya orang nggak menelan mentah-mentah info kesehatan di timeline mereka.

Buatku, bikin deck bukan cuma mindahin isi textbook ke PPT dan presentasi bukan sekadar transfer ilmu, tapi design experience. Jadi aku mikirin isi slide, layout, contrast, bridging antar-slide, sampai script. Itu caraku buat jaga attention span dan bikin audiens benar-benar mengalami materinya.

T&: Dari audiens internasional waktu itu, keresahan apa yang ternyata sama di banyak negara?

ER: Ada satu plot twist. Audiensku ini mahasiswa farmasi internasional yang usianya sama-sama Gen Z. Tapi pas sesi berjalan, mereka kayak baru ngeh: “Kita ini Gen Z, tapi kenapa pas belajar farmasi cara mikir kita jadi kaku kayak boomer?”

Mereka sadar hidup mereka dekat banget dengan dunia digital, smartphone, dan scrolling. Tapi, behavior itu sering nggak kebawa saat belajar jadi tenaga kesehatan. Cultural gap ini ternyata global.

Dunia farmasi jago membentuk ilmuwan, tapi sering lupa ngajarin cara ngobrol santai sama manusia lain.

T&: Buat younger generation, presentasi efektif sekarang lebih soal informatif atau terasa human?

ER: Menurutku sudah bergeser ke how understandable and human it feels. Informasi sekarang murah. Semua orang bisa cari textbook, jurnal, atau tanya Google dalam hitungan detik. Yang mahal itu koneksi.

Gen Z cepat burnout kalau dikasih presentasi yang padat teks, kaku, dan satu arah. Jadi deck sekarang bukan soal seberapa banyak data yang kita punya, tapi seberapa bisa kita menerjemahkan data itu jadi sesuatu yang relate dengan hidup mereka.

Makanya sebelum bikin sesi, aku selalu mulai dari: audiensnya siapa, platform yang mereka pakai, dan keresahan apa yang bisa aku bantu jawab. Dari situ baru bahasa, relevansi, dan angle-nya bisa kebentuk.

T&: Kenapa insight bagus tetap bisa gagal engage audiens?

ER: Menurutku dua masalah besarnya: design dan addressing. Kita sering terlalu fokus ke isi, padahal problem-nya ada di cara menyampaikan.

Topik scientific sering disajikan terlalu mentah. Datanya bagus, tapi visualnya nggak membantu. Slide juga sering terlalu padat sampai audiens bingung harus lihat yang mana duluan.

Ditambah storytelling yang patah, audiens jadi susah nemu benang merahnya. Ujung-ujungnya mereka lebih gampang terdistraksi ke HP.

T&: Setelah presentasi di IPSF, pelajaran paling besar yang kamu bawa pulang apa?

ER: IPSF jadi validasi besar buat apa yang selama ini aku percaya lewat Pharmacy and Beyond. Awalnya aku kira yang diuji itu bahasa Inggrisku. Ternyata yang diuji justru kemampuanku menerjemahkan.

Menurutku, kemampuan penting seorang farmasis bukan cuma menjelaskan obat, tapi menerjemahkan kompleksitas jadi sesuatu yang bisa dipahami manusia. IPSF ngebuktiin kalau komunikasi bukan cuma soal public speaking, tapi how to design our thinking.

Makanya sampai sekarang aku masih terus trial-error. Untuk topik yang mirip pun, aku tetap bikin deck dari nol. Karena obat boleh punya formula yang sama, tapi manusia yang kita ajak bicara selalu punya cerita yang beda.


3 practical tips we can learn from Eza’s experience.

1. Terjemahin, jangan cuma jelasin.
Kalau materinya teknis, tugas kita bukan bikin orang kagum sama istilahnya, tapi bikin mereka paham. Ubah bahasa akademik jadi bahasa manusia.

2. Design the experience, not just the slides.
Jangan cuma mikirin isi. Pacing, visual, alur, dan transisi antar-slide juga ngaruh banget buat jagain attention span audiens.

3. Bikin materi dari “sepatu” audiens.
Sebelum bikin slide, bayangin dulu mereka akan mikir apa, bingung di bagian mana, dan insight apa yang paling relate sama kehidupan mereka.

Previous
Previous

Styling No Na for the Gold House Gala? | Allysha Nila

Next
Next

Presentasi Soal 'Figuring Life Out' di Depan Ribuan Gen Z? | Sarah Ardiwinata