Presentasi Sambil Ngobrol di Rewind by Maple Media? | Tiara Dianita
Ada momen di mana rundown wawancara cuma jadi peta arah, bukan aturan kaku yang harus diikuti kata demi kata.
Bagi Tiara Dianita, Editor The Maple Media di Redwoods Digital, momen itu adalah keseharian. Sebagai host di berbagai sesi interview seperti Rewind dan Wander, dia harus bisa menjaga obrolan tetap santai sekaligus terarah — sambil membaca kapan harus menggali lebih dalam dan kapan cukup merangkum.
Jadi, gimana prosesnya? Apa tantangan terbesarnya? Dan yang paling penting, apa rasanya presentasi sambil ngobrol di Rewind by Maple Media?
“Rundown baginya adalah peta, bukan borgol.”
Tiara Dianita • Editor at The Maple Media, Redwoods Digital
T& (T&DON): Sebagai host, apa yang paling challenging pas mesti menjaga obrolan tetap santai tapi tetap terarah?
Setiap narasumber punya karakter berbeda, jadi riset jadi kunci untuk membaca arah obrolan.
TD (Tiara Dianita): Rasanya setiap interview di Rewind, siapapun bintang tamunya atau narasumbernya, selalu ada rasa exciting tapi juga challenging. Hal ini karena masing-masing narasumber punya karakter dan personality yang berbeda-beda.
Melalui riset, kita jadi tahu bagaimana gestur orang tersebut dan kira-kira balasannya akan seperti apa. Gue selalu menyiapkan tantangan itu dalam riset, karena riset sangat membantu untuk bisa memandu berbagai interview yang pastinya akan beda-beda.
Jadi, gue selalu merasa interview di Rewind itu menyenangkan dan memberi banyak hal baru buat gue secara personal.
Sesi Guest Speaker © Tiara Dianita
T& (T&DON): Walaupun formatnya ngobrol, struktur apa aja yang biasanya disiapin sebelum rekaman dimulai?
Empat tahap: riset awal dari tim, riset mendalam mandiri, susun daftar pertanyaan, dan siapin mental.
TD (Tiara Dianita): Pertama, riset awal: tim riset. Sekitar seminggu sebelum syuting, tim riset Maple nyiapin riset general sebagai landasan awal.
Kedua, riset mendalam: mandiri. Gue lanjutin ke riset yang cukup mendalam dengan nontonin interview narasumber di YouTube dan baca-baca berbagai artikel pendukung.
Ketiga, nyusun daftar pertanyaan. Gue nyiapin daftar pertanyaan sebagai panduan (guide) dengan kerangka yang jelas, mulai dari masa kecil, remaja, sampe dewasa.
Keempat, siapin mental. Setelah ngelewatin proses riset dan nyusun guide itu, gue baru akan ngerasa siap secara mental untuk memandu interview.
Rewind Bersama Dian Sastro © Maple Media
T& (T&DON): Ada nggak respon atau follow-up tertentu yang dipake buat bikin narasumber mau cerita lebih jujur tanpa ngerasa pressured?
Ketika kita merespon dengan sejujur-jujurnya dan benar-benar mendengarkan, itu menciptakan komunikasi dua arah.
TD (Tiara Dianita): Sebenernya respon atau follow-up tertentu itu nggak pernah ada; gue nggak pake sebuah formula khusus. Tapi, dari beberapa interview gue belajar: gue selalu membayangkan di posisi mereka dengan berbagai pertanyaan yang sudah diajukan media lain; kalau kita nggak jadi genuine di situ, ya ngapain juga narasumber merasa perlu untuk cerita jujur tentang dirinya.
Narasumber akan ngasih kepercayaan (trust) sehingga mereka bisa cerita detail dan hal-hal personal. Jadi menurut gue, genuine gesture itu sangat penting dalam meng-interview.
Rewind Bersama Abigail Muria dan Cania Citta © Maple Media
T& (T&DON): Kalau harus memilih satu skill komunikasi yang paling krusial, apa dan kenapa?
Skill mendengarkan adalah yang paling krusial dan membantu dalam proses interview.
TD (Tiara Dianita): Yang krusial dan sangat membantu menurut gue adalah skill mendengarkan. Dengerin setiap cerita dari narasumber nggak cuman secara verbal, tapi juga gesturnya, cara dia menjawab, apakah dia lagi insecure atau apa.
Ketika lo bener-bener dengerin, follow-up question-nya akan jadi sebuah pertanyaan yang genuine dan beneran ngegali cerita narasumber lebih dalam.
T& (T&DON): Apa bedanya approach saat ngobrol dengan narasumber yang terbiasa tampil di publik dibanding yang jarang muncul di kamera?
Untuk yang jarang di depan kamera, butuh extra effort dulu buat bikin mereka nyaman.
TD (Tiara Dianita): Untuk yang nggak biasa di depan kamera, kita harus aware dan ngelakuin extra effort biar bisa ngasih kenyamanan dulu di awal. Ini lumayan tricky karena tiap orang beda — pendekatannya lebih ke arah ngebuat narasumber nyaman untuk bercerita, tapi bukan sesuatu yang dibuat-buat karena hal itu biasanya nggak works dalam interview.
Ketika narasumber udah ngerasa nyaman dan fokus ke percakapan, pelan-pelan dia akan fokus ke pertanyaannya aja. Nggak lagi soal gimana dia harus tampil di depan kamera.
Wander Bersama Soleh Solihun, Iyas Lawrence, Tiara Dianita © Maple Media
T& (T&DON): Apa hal paling penting yang selalu dievaluasi setelah satu episode selesai direkam?
Bagaimana bisa bertanya efektif tanpa berbelit-belit, dan tetap fokus ke narasumber.
TD (Tiara Dianita): Buat gue sebagai seorang interviewer, setiap episode pasti ada hal berbeda yang dievaluasi. Tapi kalau diingat kembali, fokusnya adalah bagaimana gue bisa menanyakan pertanyaan secara efektif tanpa harus berbelit-belit dan meng-guide narasumber biar lebih fokus ke mereka.
Kadang gue juga mengkritisi diri sendiri kalau terlalu banyak bilang “ee... ee...”. Gue pun masih banyak belajar dan belum bisa men-ceklis semua itu, but at least I’m trying.
Rewind Bersama Lomba Sihir © Maple Media
3 practical tips we can learn from Tiara’s experience.
1. Riset sampe “kenal”.
Sebelum ngobrol, ulik interview lama dan artikel terkait biar kita paham gesturnya dan nggak kaku pas ngarahin obrolan.
2. Listening as a sign of respect.
Jangan cuma denger omongannya, tapi perhatiin juga gesturnya supaya follow-up question makin sharp dan tepat sasaran.
3. Honesty brings openness.
Kalau kita genuine, narasumber bakal kasih trust dan berani lebih terbuka karena ngerasa nyaman dan safe.