Presentasiin Misi Pemberdayaan Perempuan? | Devina Mahendriyani

Bagi Devina Mahendriyani, presentasi bukan sekadar menyampaikan pencapaian bisnis—tapi sebuah tanggung jawab untuk mewakili suara perempuan yang lebih luas. Sebagai Head of Girls Beyond by Female Daily Network, ia percaya bahwa memimpin dengan empati sama pentingnya dengan berani mengambil keputusan. Dalam obrolan bersama T&DON, Devina berbagi soal menyeimbangkan data dengan cerita, menjaga ambisi pribadi tetap selaras dengan misi kolektif, dan kenapa persiapan yang matang adalah kunci dari rasa percaya diri di ruang rapat mana pun.



“Banyak sekali di luar sana yang mendorong perempuan untuk berani dan mau mencoba saat menjadi pemimpin, tapi jarang sekali yang mengajarkan bagaimana perempuan bisa leading with empathy but still bold enough to make a decision and to lead the team with integrity.”

T& (T&DON): Gimana rasanya presentasiin hal yang bukan sekadar pencapaian bisnis, tapi sebuah tanggung jawab moral untuk mewakili suara perempuan di luar sana?

DM (Devina Mahendriyani): Sometimes it’s not only about the message and the stage, but the fact that:

We set the example that women now have the opportunity to speak louder. That women nowadays are trusted to speak in large audience.

Buat aku sendiri, ini merupakan sebuah tanggung jawab sekaligus kesempatan untuk menunjukkan bahwa semua perempuan punya peluang yang sama untuk berbicara dan menyampaikan hal yang bisa membawa dampak baik.

Di era sekarang, jadi viral itu mudah dan berbicara lantang bisa di mana saja. Tapi, bersuara dengan cara yang baik dan benar-benar berdampak nyata bukan hal yang bisa dilakukan semua orang.

Maka dari itu, kesempatannya mesti dimanfaatkan sebaik mungkin dengan niat dan tata cara yang baik.

T&: Gimana cara nyeimbangin data dan emotional storytelling biar pesannya nggak kedengeran kayak slogan aja?

DM: Menurut pengalaman:

Keep it simple. Semakin simple dan tertata, makin efisien presentasinya.

Dilakuin lewat mengombinasikan data dan narasi yang tepat dan relevan untuk ngebangun solusi yang ditawarkan, sehingga bisa menyentuh sisi emosional audiens.

Presentasi dengan penuh data statistik memang menyuguhkan sesuatu yang valid, akurat, dan pasti. Namun, dengan kita memberikan unsur narasi atau storytelling yang tepat, pendengar akan merasa lebih relevant.

Story yang akan memicu rasa ingin mendengarkan lebih lama, atau akhirnya memberikan interest yang lebih besar pada proyek atau pesan kita.

Proporsi dibuat seimbang dan dikombinasikan alurnya, namun tetap harus riset dahulu kepada siapa kita akan presentasi.

This also gonna help you to plan how you gonna do the emotional approach.

T&: Dengan audiens yang beda-beda, gimana cara bikin mereka tetap merasa relate dengan pesan yang dibawa?

DM: The key is how we do the storytelling. Berlaku ketika menangani tanggung jawab di berbagai platform dengan rentang usia audiens yang berbeda.

In this case, pemilihan angle, tata bahasa, dan penempatan perspektif jadi hal yang harus dipertimbangkan saat membuat narasi.

Pesan yang ingin disampaikan bisa punya arti berbeda apabila kita membuat narasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau keinginan audiens karena tidak adanya poin relevance.

Flow yang biasa diterapkan adalah:

Pertama, Mengenal audiens. Mengenal mereka terlebih dahulu, baik dari sisi demografi, psikografi, maupun interest/kebutuhan mereka.

Kedua, Mapping audience journey. Memetakan perjalanan audiens yang mengarah pada struktur storytelling yang akan dirangkai.

Ketiga, Strukturisasi konten. Mulai dari hook sampai bagaimana kita merangkai berita tersebut dengan metode ringkas namun jelas (mengingat audiens punya time span yang berbeda dalam membaca berita).

Keempat, Interaksi. Tetap memperhatikan bagaimana kita bisa berinteraksi dengan audiens melalui konten yang engage—sesimpel membuat mereka berefleksi atau merasa ikut menjadi bagian dari konten tersebut.

T&: Sebagai wajah sebuah movement, gimana cara misahin ambisi pribadi dan misi kolektif saat presentasi?

DM: Harus diakui memang it’s quite hard to separate self-ambition with the mission that the brand brings to the table.

Apalagi kalau kita punya drive yang besar untuk isu atau fokus yang dibawa di brand tersebut.

Brand itu tidak berdiri secara individual; banyak aspek yang dipertimbangkan, baik internal maupun eksternal—terutama saat merencanakan sustainability jangka panjang dari sisi operasional maupun revenue.

Ketika melakukan banyak kerja sama dengan pihak lain, pasti akan ada penyesuaian (adjustment) sesuai objektif kerja sama tersebut, seperti pesan yang akan di-deliver yang terkadang bisa saja tidak sejalan dengan prinsip pribadi.

Tapi kita harus fully aware dan mindful bahwa ambisi ini harus di-adjust dan sebisa mungkin “dijahit” dengan kebutuhan objektif lain.

Selama kita tetap bisa menjaga agar tidak melenceng dari prinsip, visi-misi, dan pilar dari brand yang mau kita bangun.

T&: Apa realitas tentang perempuan dalam leadership yang justru baru kerasa pas turun langsung di lapangan?

DM: Pertama, how women can lead with feelings and empathy.

Banyak sekali di luar sana yang mendorong perempuan untuk berani mencoba saat jadi pemimpin, tapi jarang sekali pembelajaran yang mengajarkan gimana perempuan bisa lead with empathy but still bold enough to make a decision and to lead the team with integrity.

Menyeimbangkan antara hati dan logika itu sebuah tantangan, tapi bisa kita asah dari pengalaman dan case study yang ada di lapangan.

Kedua, kita harus walk the talk and set the example to our team.

We must do this once jadi leader. Kadang kita sering kali hidup dalam ekspektasi banyak orang bahwa kita bisa melakukan segalanya.

Padahal, being an example matters enough agar tim tahu bagaimana cara melakukannya dan melakukan improvisasi.

Ketiga, kita mesti brave enough to say yes to new things.

Eksplorasi diri dan bertemu orang baru bisa memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi pekerjaan lebih jauh.

Even further, bisa membuka peluang kerja sama yang menunjang pertumbuhan bisnis, brand, tim dan diri kita sendiri.

T&: Buat perempuan yang sering merasa suaranya tenggelam di ruang rapat, apa hal paling penting yang perlu dilatih?

DM: Persiapan dengan matang.

Persiapan yang matang mencakup beberapa hal:

Tau pesan atau konteks apa yang akan disampaikan.

Tau apakah pesan tersebut relevan dengan topik yang sedang dibahas di ruang rapat.

Tau dengan siapa kita berbicara; riset dan kenal lebih dalam mengenai siapa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.

Tulis dan tata isi pendapatmu.

Atur napas dan jaga intonasi bicara.

Kalo kamu merasa lebih bisa menyampaikannya dengan bantuan panduan (guidance).

Persiapkan semuanya secara matang dan cepat. Dengan persiapan yang matang:

Kamu akan merasa lebih percaya diri dan tidak akan merasa “takut salah” karena dibantu oleh riset dan data yang mendukung penyampaian pesanmu.

Jadi inti dari menjadi lebih berani adalah: lakukan persiapan dengan baik dan matang.

I live by this statement: If you fail to plan, you’re planning to fail. So, PLAN!


3 practical tips we can learn from Devina’s experience.

1. Balance data with emotional relevance.
Data bikin presentasi kita valid, tapi storytelling bikin orang peduli. Atur keduanya biar saling menguatkan.

2. Tau audiens sebelum nyusun narasi.
Cara ngomong ke audiens muda, profesional, atau komunitas pasti beda. Makanya relevance, bahasa, dan angle perlu disesuaiin dulu biar kita didenger.

3. Confidence comes from preparation.
Riset, ngerti konteks ruang, dan nyusun poin dengan jelas bikin kita lebih berani bicara. That’s where we grow our confidence.

Previous
Previous

Presentasi di Depan Ratusan Strangers di Mutual Friends? | Bella Utami

Next
Next

Presentasi Sebagai Mentor di Apple Developer Academy? | Adhe Tertiasusman