Presentasi Untuk Rebranding Indonesia Kaya? | Evan Wijaya
Evan Wijaya, seorang graphic designer dan art director, berbagi pengalamannya ketika harus mempresentasikan konsep rebranding Indonesia Kaya — brand seni budaya Djarum Foundation — di hadapan tim klien. Di balik keterbatasan waktu, gangguan teknis yang tak terduga, dan sensitivitas budaya yang harus dijaga, bagaimana dia tetap menjaga kepercayaan diri dan kredibilitasnya?
“Di era sekarang yang serba sensitif, diksi yang dibawakan sebaiknya netral namun tepat guna, serta tidak terkesan berpihak atau menyudutkan salah satu sisi agar semuanya tetap objektif.”
Evan Wijaya
T& (T&DON): Waktu duduk nunggu giliran pitching, apa yang sebenarnya paling “ramai” di kepala sebelum mulai ngomong?
Bisa bersanding dan bertanding bersama para senior yang karya-karyanya saya kagumi saja sudah membuat saya sangat bangga.
EW (Evan Wijaya): Sejujurnya di titik itu, bisa bersanding dan bertanding bersama para senior yang karya-karyanya saya kagumi saja sudah membuat saya sangat bangga. Banyak hal yang “ramai bersliweran” di kepala:
Mulai dari khawatir akan presentasi yang saya bawakan tidak cukup terlihat ‘profesional’ apabila dibandingkan dengan punya mereka, hingga khawatir desain yang saya buat tidak menjawab objektif, apalagi dengan klien sebesar Djarum. Mengingat waktu pengerjaan proyek lumayan terbatas.
T&: Apa tekanan terbesar yang dirasain pas harus jelasin “wajah baru” Indonesia Kaya ke mereka?
EW: Tekanan terbesar muncul dari bagaimana mencari keseimbangan antara unsur kebaruan dengan apa yang sudah Indonesia Kaya punyai selama ini.
Singkatnya, apa yang harus diubah dan apa yang perlu dipertahankan. Sebagai sebuah institusi yang sudah lama ada, ada nilai yang sudah mengakar dan dipunyai oleh Indonesia Kaya.
Kesakralan esensi tersebut adalah yang membuat brand ini unik dan–quite literally–kaya, sehingga perlu dijaga. Setelah mengetahui apa yang perlu tetap ada, barulah kita berpikir strategis terkait ruang gerak untuk memberikan nafas baru.
T&: Katanya deck presentasinya sempet bermasalah, apa yang dilakuin untuk jaga confidence dan kredibilitas di depan audiens?
EW: Sebelum presentasi saya selalu berdoa agar semuanya berjalan lancar. Namun terkadang memang semesta suka usil sama kita.
Deck presentasi saya tidak bisa terbuka dan tentunya ini membuat saya cukup panik, terutama karena di ruang presentasi klien jadi harus menunggu, padahal setiap desainer diberi waktu presentasi yang terbatas.
Di titik ini saya sudah pasrah, namun saya pikir tidak boleh terlihat panik atau stress agar suasana diri tetap positif.
Jadi akhirnya, ya, saya bawa santai aja, nungguin deck terbuka sambil ngobrol-ngobrol ringan sama tim klien. Justru ini yang bikin saya lebih luwes dan tidak tegang ketika menjelaskan deck.
T&: Saat visual jadi sangat krusial tapi mungkin kondisi teknis gak ideal, bagian mana dari presentasi yang harus tetap hidup lewat verbal atau kata-kata?
EW: Ada dua bagian yang menurut saya penting.
Pertama — Konsep atau alasan utama desain itu terbentuk. Ini sebagai tanda bahwa kita betul-betul paham akan proyek tersebut dan tahu solusinya.
Kedua — Bagian yang mempunyai visual impact paling besar. Misalnya pas munculnya logo pertama kali, atau bila ada mockup yang paling bagus.
T&: Dengan waktu pitching yang terbatas, gimana kamu mengatur tempo bicara dan memilah mana yang wajib disampaikan?
EW: Latihan berkali-kali dengan menggunakan timer. Jadi sudah semi dihafalkan agar kalimat yang terucap efektif dan jelas.
Penyampaian bagian krusial lebih lambat, yang lain lebih cepat. Di bagian konsep saya lambatkan sedikit karena penting, sedangkan di bagian lain yang tidak terlalu signifikan saya cepatkan.
T&: Dalam pitching yang sensitif secara budaya, seberapa penting pilihan kata dan framing kalimat dibanding sekadar jelasin konsep visual?
EW: Di era sekarang yang serba sensitif akan isu-isu rasial, keberagaman, dan budaya, penting untuk mempunyai kesadaran diri akan kondisi zaman.
Diksi yang dibawakan sebaiknya netral namun tepat guna, serta tidak terkesan berpihak atau menyudutkan salah satu sisi agar semuanya tetap objektif.
T&: So, dari pengalaman pitching ini, pada akhirnya apa satu kebiasaan teknis soal presentasi yang sekarang selalu kamu siapkan sebagai “plan B”?
EW: Selalu bawa backup file.
Masukkan ke hard disk atau upload file di Cloud atau Google Drive.
Backup file online. Biasanya saya upload 2 macam: yang hi-res (walau file size agak besar) dan compressed (file size lebih kecil, namun lebih mudah di-download apabila koneksi internet di lokasi susah).
Backup file ke WhatsApp. Selain itu saya terkadang kirimkan backup file-nya melalui WhatsApp ke diri sendiri, sehingga kalau butuh dikirimkan cepat bisa langsung forward.
‘3 Practical Tips We Can Learn from Evan’s Experience.’
1. Master the why of what we built.
Kalau slide bermasalah, ide harus tetap jalan. Pastikan kita paham core concept luar dalam biar bisa dijelasin clear tanpa bantuan visual.
2. Slow down where it matters.
Nggak semua bagian perlu tempo yang sama. Kasih waktu lebih di konsep kunci, ringkas di detail pendukung.
3. Prepare for failure before it happens.
Selalu punya versi cadangan. Offline, online, besar, kecil. Redundancy saves credibility.