Presentasi di Sony Future Filmmaker 2025? | Shaquille & Quina
Shaquille Zaki N. & Quina Q. Mirxela adalah Director and Writer dari Tanah Kitai, mahasiswa Arsitektur UI 2022 yang percaya cerita yang jujur dan tulus bisa menembus batas negara. Berikut cerita mereka soal rasanya mempresentasikan film dokumenter tentang masyarakat adat Dayak Iban di Sony Future Filmmaker 2025, dari membangun trust dengan narasumber sampai menghadapi panggung internasional pertama mereka.
T& (T&DON): Apa yang pertama kali kepikiran waktu tahu harus present di panel internasional?
SZ & QQ (Shaquille Zaki N. & Quina Q. Mirxela): Pastinya gugup, hahaha. Tentu ada rasa takut dan sedikit terintimidasi. Melihat siapa saja yang ada di ruangan: filmmaker hebat dari berbagai negara, juri internasional, bahkan tim dari Sony sendiri.
Tapi rasa takut dan gugup itu datang bersamaan dengan rasa bangga.
Film ini sejak awal kami buat untuk menyebarkan pesan dari masyarakat adat Dayak Iban, jadi kami merasa sangat terhormat bisa memperkenalkan kisah mereka di panggung internasional.
Rasanya seperti membawa suara mereka ke audiens yang lebih luas, dan itu sesuatu yang benar-benar berarti buat kami.
Melihat bagaimana film ini diterima dengan positif membuat kami merasa lebih tenang dan juga bangga akan culture yang kita, Indonesia, punya.
T&: Gimana cara bangun trust sama komunitas Iban?
SZ & QQ: Selama di Kalimantan, kami menginap selama dua minggu di rumah warga Iban. Sehingga, secara keseharian, dari pagi hingga malam, kami selalu berkegiatan bersama warga setempat, seperti ikut mereka berladang, makan bersama, sampai mengobrol santai di teras rumah panjang.
Kedekatan sehari-hari seperti itu membuat hubungan kami jadi lebih natural dan membuat mereka merasa nyaman untuk bercerita.
Kami sangat sadar bahwa film dokumenter memerlukan kepercayaan dari para narasumber untuk menceritakan pengalaman dan perasaan mereka sejujur-jujurnya. Dan bagi kami, momen-momen kecil di luar kamera justru yang paling membantu membangun kepercayaan itu.
Sebelum melakukan wawancara, kami juga selalu meluangkan waktu untuk berkenalan secara informal, seperti mengajak ngopi, ikut beraktivitas, atau sekadar ngobrol ringan.
T&: Waktu presentasi, lebih fokus ke teknis film atau pesan cerita?
SZ & QQ: Jadi prioritas kami adalah untuk menjelaskan cerita yang kami bawa: siapa yang menjadi subjek film dokumenter ini (masyarakat adat Dayak Iban), dan pesan apa yang ingin kami gali dan sampaikan dari mereka.
Kemarin kami dapat kesempatan untuk mempresentasikan film kami dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari dua menit.
Setelah itu baru kami memperkenalkan diri dan sedikit menyinggung aspek teknis, misalnya gear yang kami gunakan itu entry-level camera.
Dari situ, semakin terasa bahwa kami memang benar-benar first-time filmmakers, hahaha.
Tapi ternyata, yang paling banyak dibahas justru adalah "cerita" dari masing-masing film dan bagaimana penyusunannya menjadi inti dari keseluruhan karya.
T&: Apa yang paling beda dari presentasi di lingkungan akademis vs. panggung internasional?
SZ & QQ: Di panggung internasional, awalnya kami kira tekanan terbesar akan datang dari sisi kualitas film, apalagi karena ini panggung besar di Hollywood.
Terkadang, di lingkungan kami, visual yang bagus justru bisa "mendistraksi" cerita, penonton seringkali lebih terfokus ke kualitas visual dibandingkan dengan kualitas narasi.
Mereka tentu peduli pada aspek visual, tapi cerita tetap menjadi hal yang utama.
Pengalaman di SFFA membuat kami sadar bahwa visual yang bagus memang penting, tapi cerita yang kuat adalah fondasi yang membuat film benar-benar berkesan.
T&: Ada insight menarik dari audiens internasional?
SZ & QQ: Yang paling menarik justru datang dari reaksi audiens internasional yang sebelumnya tidak familiar dengan adat dan budaya Indonesia.
Beberapa dari mereka bahkan sempat berkomentar seperti, "We didn't know there's a community that lives like this, I didn't know this type of living existed. It really opens up a new perspective on how we see the world."
Momen itu cukup berkesan buat kami, karena kami sadar bahwa hal-hal yang mungkin terlihat 'biasa' bagi kita di Indonesia ternyata bisa sangat membuka mata bagi orang lain.
T&: Satu tips buat yang mau present di level global?
SZ & QQ: Percaya pada cerita yang kamu bawa dan nikmati prosesnya.
Kadang ketika berada di level global, kita merasa kecil atau takut nggak cukup bagus dibanding yang lain. Tapi sebenarnya, hal yang membuat kita berbeda justru adalah perspektif dan pengalaman kita sendiri.
Karena pengalaman seperti ini bukan cuma tentang panggungnya, tapi juga tentang bagaimana kita tumbuh lewat perjalanan itu.
Jangan terlalu sibuk memikirkan harus terlihat 'sempurna'. Fokuslah pada bagaimana cerita itu bisa terasa jujur dan tulus. Karena kejujuran selalu bisa dirasakan oleh siapa pun, dari mana pun mereka berasal.
3 practical tips we can learn from Shaquille & Quina's journey:
1. Live the story before you tell it.
Semakin paham sama kondisi nyata, semakin kuat cerita yang bakal lahir. Luangin waktu bareng subjek, biar kepercayaannya tumbuh.
2. Keep your message simple but sincere.
Di panggung, time dan attention terbatas. Fokus ke pesan utama yang paling kita yakinin, jujur dan tulus.
3. Presence matters as much as content.
Ide bagus mesti diikutin delivery yang kuat. Kalau enggak, ide bakal sulit buat sepenuhnya dicerna dan diterima.