Presentasi sebagai Rektor di Institut Pariwisata? | Ariani Wardhani
Buat Ariani Wardhani, menyampaikan hal yang krusial atau sensitif nggak bisa cuma mengandalkan intonasi.
Bagi Ariani Wardhani, Rector at Institut Pariwisata Tedja Indonesia, kuncinya adalah tetap tenang dan berpikir positif supaya bisa menjawab dengan jernih dan menyampaikan pesan secara terarah.
Jadi, apa rasanya presentasi sebagai rektor di institut pariwisata?
"Saat menyampaikan hal yang krusial atau sensitif, intonasi aja nggak cukup. Pembawaan kita harus tetap tenang, karena topik seperti ini pasti memunculkan banyak pertanyaan dan pro-kontra. Makanya penting untuk tetap berpikir positif supaya kita bisa menjawab dengan jernih dan menyampaikan pesan secara tenang dan terarah."
Ariani Wardhani
T& (T&DON): Gimana bu Ari membangun alur komunikasi supaya visi institusi mudah diikuti semua audiens?
AW (Ariani Wardhani): Visi institusi memang harus disosialisasikan dan dimengerti oleh semua civitas akademika.
Sehingga, diharapkan visi dari institusi bisa tersampaikan ke semua civitas akademika.
Implementasinya bisa disampaikan dalam berbagai macam kegiatan seperti coffee morning, rapat, program-program kegiatan di institusi yang diikuti oleh semua civitas akademika.
T&: Sebagai institusi pariwisata, gimana bu Ari bikin presentasi akademik tetap terasa engaging seperti "experience"?
AW: Saya akan menyampaikan dengan cerita, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, seperti metode storytelling.
Sehingga, pesan tersebut dapat lebih mudah diterima dan secara tidak langsung dapat lebih dirasakan.
T&: Kalau ada pertanyaan spontan di tengah presentasi, gimana cara menjaga ritme tetap tenang dan dialog tetap sehat?
AW: Saya akan melakukan presentasi dulu sebelum membuka ruang diskusi dan dialog, sehingga pesan yang akan disampaikan bisa diserap dulu.
Setelah itu, jika ada yang memang belum dipahami, pertanyaan disampaikan setelah materi selesai disampaikan.
Apabila munculnya di tengah presentasi, saya coba arahkan untuk dijawab setelah selesai presentasi dengan tetap diusahakan bersikap tenang agar ritme tetap berjalan dengan baik.
T&: Dari seluruh pengalaman memimpin, prinsip komunikasi apa yang paling penting supaya visi kampus terus hidup?
AW: Prinsip komunikasi yang terpenting untuk menjaga visi institusi dapat terus hidup adalah dengan koherensi dan keterbukaan (value-based communication).
Ruang dialog antarunsur kampus penting dibangun, sehingga dapat tumbuh budaya yang penuh semangat, kolaboratif dan visioner.
3 practical tips we can learn from Ariani's leadership journey:
1. Lestarikan visi lewat rutinitas simple.
Nggak cuma lewat pidato formal. Coffee morning, rapat, dan kegiatan kampus bisa jadi ruang paling efektif untuk mastiin visi institut dirasakan semua orang.
2. Selalu tenang pas hadapi hal sensitif.
Respons audiens biasanya ngikut nada pembicara. Tone yang tenang dan positif bikin percakapan krusial tetap jernih, tanpa bikin hawa nggak nyaman.
3. Utilize cerita untuk bangun koneksi.
Storytelling dari pengalaman pribadi atau orang lain bikin pesan akademik kerasa lebih dekat dan gampang dicerna.