Presentasiin Short Film di Festival Film Internasional? | Razny Mahardhika

Bayangin ngebawaain film pendek yang ngangkat isu mental health—termasuk suicidal thoughts—ke panggung festival internasional. Gimana cara nyampeinnya dengan jujur, tanpa bikin semua orang di ruangan ikutan tenggelam?

Bagi Razny Mahardhika, Filmmaker & Creative Director di Kinovia, membawa film “Film Wajib Tonton Sebelum Mati” ke festival di Indonesia, Kanada, dan Korea Selatan bukan soal nge-pitch film—tapi soal connect sebagai manusia.

Jadi, gimana prosesnya? Apa tantangan terbesarnya? Dan yang paling penting, Apa Rasanya Presentasiin Short Film di Festival Film Internasional?



“Ngomonglah apa adanya sebagai manusia, bukan pitch deck berjalan.”

Razny Mahardhika • Filmmaker & Creative Director at Kinovia

T& (T&DON): Pas ngebahas isu mental health di forum publik seperti festival, apa challenge yang kerasa di komunikasinya?

Festival itu ruang aman, tapi tetap publik. Jadi tantangannya pas sesi QnA gimana bisa jujur, tapi sadar konteks.

RM (Razny Mahardhika): Menjaga biar ceritanya tetap jujur tanpa berubah jadi sesi curhat massal.

Karena menu presentasi utamanya tetep ada di filmnya. Apalagi “Film Wajib Tonton Sebelum Mati” menyinggung soal suicidal thoughts.

Penonton di Indonesia, Kanada, dan Korea Selatan punya keunikan masing-masing tapi mereka apresiasi isu mental health yang diangkat.

Bukan menutup diri, tapi juga nggak terjebak buat buka luka lama tanpa ada tujuan.

Foto Bersama Penonton © Razny Mahardhika

T&: Pas ketemu audiens yang belum ngenalin kamu atau filmnya, apa yang kamu sampaikan lebih dulu dan kenapa?

Gua dan tim Kinovia selalu mulai dengan pertanyaan: “Kenapa film ini perlu ada?”

RM: Baru ke proses bikinnya sesuai value kami di Kinovia: truthful, mindful, playful.

Karena tujuanku dan tim setiap berkarya adalah to create a meaningful pause.

Di momen penonton udah connect sama karakter dan ceritanya, baru mereka mau peduli sama proses dan detailnya.

Behind the Scene © Razny Mahardhika

T&: Dalam konteks festival, seberapa penting positioning film, genre, isu, atau pendekatan visual, saat kamu memperkenalkannya ke penonton?

Genre, isu, visual itu kayak pintu masuk. Tapi yang bikin penonton stay, tetap rasa.

RM: Penting, tapi jangan sampai filmnya kejebak sama label dan setelah itu eksplor di gaya yang sama. Karena setiap festival punya agenda yang berbeda.

Buat gua yang masih eksplor, rasanya film pendek itu playground buat nyari concern dan style yang gua banget.

T&: Kalau misalnya kamu cuma boleh bawa tiga poin (apapun) ke panggung festival, apa aja yang kamu pilih dan kenapa?

“Sisanya? Bonus.”

RM:

1. Kenapa film ini penting? — Kaitannya sama statement personal tapi relevan buat orang-orang yang terwakilkan.

2. Segenap tim yang mewujudkan film ini. — Karena gua yakin manfaat dari sebuah film itu cerminan dari manfaat ke timnya.

3. Percaya sama konten, konsep, dan konteks filmnya.

Sisanya? Bonus.

Foto Bersama Tim Produksi © Razny Mahardhika

T&: Satu praktik presentasi apa yang menurut kamu penting banget buat filmmaker yang mau bawa filmnya ke festival internasional?

“Ngomonglah apa adanya sebagai manusia, bukan pitch deck berjalan.”

RM: Pegangan gua selalu statement di awal kenapa bikin film ini.

Penonton festival itu cerdas. Mereka datang bukan buat diuji ke-sinefil-annya, tapi buat merasakan pengalaman unik dan autentik.

Maka jadilah kamu, karena cuma kamu yang autentik. Kalau gugup, tenang aja, itu tandanya kamu peduli. 😄

Behind the Scene © Razny Mahardhika


3 practical tips we can learn from Razny’s experience.

1. Mulai dari “kenapa”, bukan “gimana”.
Audiens lebih cepat connect ke rasa dan alasan di balik adanya sebuah film, baru kemudian peduli ke proses dan detailnya.

2. Jujur itu penting, tapi tetap sadar konteks.
Bercerita dengan tujuan, bukan sekadar “ngebuka luka”.

3. Present as a human, bukan pitch deck.
Lagi-lagi soal rasa. Audiens dateng buat dapetin pengalaman itu. Jadi ngomonglah sebagai diri sendiri.

Next
Next

Presentasi Workshop Yoga Pake Pendekatan Psikologis? | Khansa Khairunnisa